Beberapa minggu belakangan ini, menjadi hal yang sulit untuk saya. Menyesuaikan diri dengan banyak hal baru setelah 6 tahun berkutat dengan hal dan lingkungan yang sama.

Saya juga harus menyesuaikan diri lagi dengan kondisi tidak berpenghasilan, dimana jauh jauh jauh hari sebelum saya sampai di titik ini sebenarnya sudah banyak rencana yang dipersiapkan untuk mengatasinya.

Namun ternyata banyak hal meleset dan terjadi di luar kehendak, sedangkan kewajiban terus berjalan.

Berita kurang menyenangkan seperti sahut menyahut. Semesta sepertinya sedang membenci saya. Dan saya jadi orang paling tidak beruntung di dalam sebuah episode bak dalam sinetron.

Sementara, di seberang sana. Beberapa teman sedang merayakan keberuntungannya. Membahanakan sukacitanya. Menceritakan bahagianya.

Dengan senyum terbaik seakan membingkai momen paling menyenangkan dalam hidup mereka.

Lalu saya, atau kita? Seperti masuk terperosok makin dalam dalam lubang gelap kesialan.

Meratapi apa yang kita tidak punya, menyesali apa yang tidak kita dapatkan.

Klise mungkin, tapi inilah roda kehidupan. Tidak ada masa dimana kita akan selalu bahagia, tertawa lepas tanpa beban. Begitu juga tidak akan ada masa dimana kita terhimpit kesulitan.

Rejeki itu seperti takdir. Sudah tertulis dan tidak akan tertukar.

Begitupun derita. Porsinya sama masing-masing kita. Akan datang di saat yang sudah ditentukan.

Siapa saya yang melulu ingin kebahagiaan.

Jakarta,
8 September 2016

Siapa Saya Yang Melulu Ingin Kebahagiaan

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *