Kilas Balik Kekerasan Pada Anak Lewat Untukmu Angeline

Angeline

Tahun 2015 lalu ada kisah pilu dari pulau dewata Bali. Pulau yang penuh kasih dan kedamaian tersebut diwarnai kisah hilangnya seorang anak perempuan usia 9 tahun. Butuh waktu 3 minggu sejak Angeline, gadis cilik berparas cantik tersebut dinyatakan hilang lalu kemudian ditemukan dalam keadaan tidak bernyawa dikubur dalam halaman belakang rumahnya. Bukan hanya dikubur, Angelina didapatkan mengalami kondisi penyiksaan fisik dan dimasukkan ke dalam lubang tersebut diduga masih dalam keadaan bernyawa. Sahabat Angeline, Luna sebuah boneka berwujud anak kecil itulah yang menemani Angeline kecil menghadap maha pencipta.

Tidak cukup sampai disitu, penemuan jasad Angeline membuka satu demi satu kisah pilu yang dia dapatkan semasa hidupnya. Bahwa anak angkat pasangan Douglas dan Margareth tersebut kerap mendapatkan penyiksaan fisik dan mental setiap detik oleh ibu angkatnya. Menurut para saksi yang pernah menyaksikan langsung seperti mantan pembantu dan supir keluarga tersebut, mungkin hanya pada saat Angeline tidur saja dia tidak mendapatkan penyiksaan.

Kisah pilu inilah yang menjadi inspirasi pembuatan film layar lebar bertajuk Untukmu Angeline, yang sudah mulai tayang di bioskop serentak di sekitar 31 propinsi. Film yang menggambarkan secara singkat perjalanan Angeline sang putri kecil yang terpaksa hidup dalam kondisi menyedihkan. Harapan film ini dapat menyadarkan kita bagaimana kekerasan pada anak sebenarnya sangat dekat dengan keseharian kita.

Angeline tidak sendirian, Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI) menyatakan kasus kekerasan pada anak selalu meningkat setiap tahun. Hasil pemantauan KPAI dari 2011 sampai 2014, menunujukkan peningkatan yang sifnifikan. Tahun 2011 terjadi 2178 kasus kekerasan, tahun 2012 ada 3512 kasus, tahun 2013 ada 4311 kasus, tahun 2014 ada 5066 kasus. Berarti terdapat peningkatan sebesar 132% kasus kekerasan pada anak dalam waktu 3 tahun saja yaitu sejak tahun 2011 sampai dengan tahun 2014. Itupun kasus yang tercatat dan terlaporkan, entah berapa banyak kasus kekerasan lain yang tidak kita ketahui.

childabuse

5 kasus tertinggi dengan jumlah kasus per bidang dari 2011 hingga april 2015 :

Kasus Hukum : 6006 kasus
Kasus Pengasuhan : 3160 kasus
Kasus Pendidikan : 1764 kasus
Kasus Kesehatan dan Napza : 1366 kasus
Kasus Pornografi dan Cybercrime : 1032 kasus.

Sungguh sebuah angka yang signifikan, dan tentunya tidak sedikit dari kasus tersebut di atas yang berujung pada kematian.

Yang tidak kalah mencengangkan lagi adalah angka persentase (dari hasil monitoring dan evaluasi KPAI tahun 2012 di 9 provinsi) menunjukkan bagaimana anak bisa menjadi korban dari 3 tempat :

1. Lingkungan keluarga sebanyak 91%
2. Lingkungan sekolah sebanyak 87,6%
3. Lingkungan masyarakat 17,9%

Lingkungan keluarga yang merupakan tempat terbesar dimana terjadinya kekerasan anak, maka pelaku kekerasan antara lain adalah orang tua, keluarga, atau orang yang dekat di lingkungan rumah. Kemudian disusul di lingkungan sekolah dimana pelaku kekerasan antara lain adalah tenaga kependidikan yaitu guru dan orang-orang yang ada di lingkungan sekolah seperti cleaning service, tukang kantin, satpam, sopir antar jemput yang disediakan sekolah. Lalu di lingkungan masyarakat adalah orang yang tidak dikenal sebelumnya. Dari fakta tersebut di atas menegaskan bahwa kita harus lebih waspada terhadap lingkungan yang paling dekat dengan anak-anak tersebut seperti lingkungan rumah dan sekolah.

Lebih jauh KPAI memaparkan bahwa 78.3 persen anak menjadi pelaku kekerasan dan sebagian besar karena mereka pernah menjadi korban kekerasan sebelumnya atau pernah melihat kekerasan dilakukan kepada anak lain dan menirunya.

Ada beberapa fakta mengenai hubungan antara kekerasan dan penganiayaan pada anak baik verbal atau fisik dengan perkembangan anak :

1. Menyebabkan bagian-bagian penting di daerah otak gagal atau tidak berkembang secara baik, sehingga akan berpengaruh pada terhambatnya semua aspek perkembangan tubuh dan mental anak

2. Beberapa studi menunjukkan kondisi kesehatan dan perilaku kepada anak yang tidak baik, akan memicu kondisi risiko kesehatan yang tinggi akan tingkat timbulnya penyakit jantung, paru-paru, hipertensi, asma, diabetes dan obesitas pada saat anak tersebut dewasa nanti (Felitty & Anda, 2009)

3. Orang tua yang melakukan kekerasan terhadap anak itu sendiri ternyata cenderung memiliki pengalaman kekerasan yang sama pada masa kecilnya. Data dari Longitudinal Study of Adolescent Health menunjukkan peningkatan risiko sebesar 1 – 8% dari anak perempuan yang pernah merasakan kekerasaan akan menjadi pelaku kekerasan di kemudian hari. Sedangkan 3 – 17% peningkatan risiko dari anak laki-laki yang pernah merasakan kekerasan masa kecil akan melakukan tindak kekerasan remaja (Xiangming & Corso, 2007)

4. Mengalami trauma dan penganiayaan masa kecil, seperti kekerasan fisik atau seksual, akan meningkatkan risiko timbulnya gangguan kepribadian, depresi, kecemasan dan gangguan-gangguan kejiwaan lain, Sebuah studi yang menggunakan data The Adverse Childhood Experiences (ACE) menemukan bahwa hampir 54% dari kasus depresi dan 58% dari kasus percobaan bunuh diri pada wanita memiliki hubungan langsung dengan pengalaman trauma kekerasan masa kecilnya (Felitti & Anda, 2009).

5. Penganiayaan pada anak juga memberikan dampak negatif pada sistem pengaturan emosi yang akan terus terbawa sampai tingkat remaja dan dewasa. (MessmanMorre, Walsh, & DiLillo, 2010)

6. Gangguan fungsi kognitif dan peningkatan risiko insiden ditemukan oleh para peneliti National Survey of Child and Adolescent Well-Being (NSCAW) pada anak yang mengalami penganiayaan, termasuk risiko terjadinya ketertinggalan dari kemampuan seharusnya (ACF/OPRE, 2012b) Dalam studi tersebut juga dipaparkan bahwa 10% dari anak yang mengalami penganiayaan akan menunjukkan prestasi akademik yang rendah, 43% anak akan mengalami gangguan emosi dan perilaku, sedangkan 13% anak akan mengalami kedua kondisi tersebut bersamaan (ACF/OPRE, 2011).

Ketika kita tau sebesar itulah dampak yang akan dipikul oleh anak-anak korban kekerasan dan penganiayaan yang jumlahnya jutaan bahkan mungkin ratusan juta tersebut, apakah kita sanggup hanya berdiam diri. Kita seharusnya bisa lebih peka terhadap sekitar. Meluangkan waktu mengenali kondisi anak-anak di sekitar kita dan membantu mereka bila membutuhkan. Karena mereka memiliki hak yang sama seperti anak-anak lain. Mereka berhak dikasihi, berhak mendapatkan perlakuan yang baik dan jauh dari kekerasan. Agar tidak ada lagi Angeline – Angeline lain yang harus dan menderita meregang nyawanya untuk sebuah alasan yang sangat bodoh.

Selamat Hari Anak Nasional 2016. Semoga kami selalu bisa menjaga dan memberi kalian semua kehidupan yang jauh lebih baik.

Poster-film-Untuk-Angeline

Sumber :
Pelaku Kekerasan Terhadap Anak Tiap Tahun Meningkat
http://www.kpai.go.id/berita/
Child Abuse and Neglect
https://www.childwelfare.gov/can/
Definitions of Child Abuse and Neglect
https://www.childwelfare.gov/can/defining/
Preventing Child Abuse and Neglect
https://www.childwelfare.gov/preventing/

JadwalAngeline

Kilas Balik Kekerasan Pada Anak Lewat Untukmu Angeline
Tagged on:     

2 thoughts on “Kilas Balik Kekerasan Pada Anak Lewat Untukmu Angeline

  • August 5, 2016 at 12:42 pm
    Permalink

    Ardiba, pemanasan mumet jadi mahasiswa sebelum ngarang tesis ikih ?

  • July 27, 2016 at 3:19 pm
    Permalink

    Ulasannya lengkap beud. Macak gawe karya ilmiah ki. Hehe

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *