Siapa Saya Yang Melulu Ingin Kebahagiaan

Beberapa minggu belakangan ini, menjadi hal yang sulit untuk saya. Menyesuaikan diri dengan banyak hal baru setelah 6 tahun berkutat dengan hal dan lingkungan yang sama.

Saya juga harus menyesuaikan diri lagi dengan kondisi tidak berpenghasilan, dimana jauh jauh jauh hari sebelum saya sampai di titik ini sebenarnya sudah banyak rencana yang dipersiapkan untuk mengatasinya.

Namun ternyata banyak hal meleset dan terjadi di luar kehendak, sedangkan kewajiban terus berjalan.

Berita kurang menyenangkan seperti sahut menyahut. Semesta sepertinya sedang membenci saya. Dan saya jadi orang paling tidak beruntung di dalam sebuah episode bak dalam sinetron.

Sementara, di seberang sana. Beberapa teman sedang merayakan keberuntungannya. Membahanakan sukacitanya. Menceritakan bahagianya.

Dengan senyum terbaik seakan membingkai momen paling menyenangkan dalam hidup mereka.

Lalu saya, atau kita? Seperti masuk terperosok makin dalam dalam lubang gelap kesialan.

Meratapi apa yang kita tidak punya, menyesali apa yang tidak kita dapatkan.

Klise mungkin, tapi inilah roda kehidupan. Tidak ada masa dimana kita akan selalu bahagia, tertawa lepas tanpa beban. Begitu juga tidak akan ada masa dimana kita terhimpit kesulitan.

Rejeki itu seperti takdir. Sudah tertulis dan tidak akan tertukar.

Begitupun derita. Porsinya sama masing-masing kita. Akan datang di saat yang sudah ditentukan.

Siapa saya yang melulu ingin kebahagiaan.

Jakarta,
8 September 2016

Seorang Penyelamat

Saya pernah punya seorang teman baik saat kuliah dulu, seorang laki-laki keturunan Arab. Asad namanya. Wajahnya yang tampan ala Arab itu selalu ceria menyapa saat bertemu. Kami kerap berkumpul bersama teman-teman lain di sebuat warung internet, disana kami banyak berbagi cerita dan tawa.

Suatu hari Asad menemukan saya dalam keadaan mata sembab setelah menangis. Saya sendiri lupa permasalahan apa yang dulu saya hadapi, sepertinya tidak jauh dari permasalahan keluarga. Asad menarik saya ke sudut ruangan, mempersilahkan duduk lalu mengambil segelas air minum untuk saya. Asad tersenyum, setengah tertawa lebih tepatnya. Dia bilang wajah saya seperti baru dipukuli orang sekampung.

“Sudah pula ga cantik, malah tambah jelek kamu..” goda dia saat itu. Bukannya tertawa digoda seperti itu, saya malah menangis lagi. Belum keluar semua emosi saya sepertinya saat itu hahaha. Asad malah tambah tergelak melihat saya menangis. Saya yang tidak biasa di kondisi seperti itu langsung tercekat, “apa sih maksud orang ini” pikir saya dalam hati. Bukannya bersimpati, malah mentertawakan.

Rupanya dia melihat gelagat tidak baik dari wajah saya. “Oke oke, denger ya Njung.. saat loe lagi sedih seperti ini, jangan mengurung diri atau menyepi sendiri. Cari suasana yang menyenangkan, bersama teman-teman yang bisa menghibur kamu. Karena kesendirian akan hanya membuatmu semakin tenggelam dalam kesedihan. Oke ?” dia mengerling, tersenyum, lalu menepuk-nepuk puncak kepala saya. Setengah beban saya seperti menguap saat itu juga.

Di suatu saat lain, saya punya seorang sahabat yang sangat baik. Mya namanya. Suatu waktu Mya menanyakan alasan kenapa saya menangis. Saya tidak banyak bercerita lagi tentang alasan kali ini, walaupun rasanya sangat berat berusaha meredam semua emosi yang masih ada. Mya pun tidak bertanya lebih jauh, hanya memastikan keadaan saya baik-baik saja.

Keesokan paginya, sebuah kalimat singkat masuk ke handphone saya.

“Aku mendoakan kamu pagi ini….” tulis Mya.

Seketika itu perasaan haru menyeruak masuk ke dalam dada, naik ke ubun-ubun, memaksa butiran-butiran air di pelupuk mata untuk mengalir keluar lagi. Kali ini butiran air itu melarutkan rasa perih yang sejak kemarin mengendap di hati saya. Terimakasih ya My, saya bersyukur sekali memiliki kamu.

.. dan perhatian-perhatian kecil dari orang lain di sekitar. Nyatanya mumpuni menjadi sugesti kuat yang membuat saya lebih mampu saat menghadapi kesulitan.

Kalimat sederhana dengan niat yang tulus, menjadi tangan penolong yang mencegah orang lain semakin terperosok dalam keputus-asaan.

Membuat saya ingin menjadi mereka, Seorang Penyelamat.

angel-wings-angels-25201950-1280-800

What’s Inside | Belum

Menginginkan sesuatu yang sederhana dengan mengorbankan segalanya. Berharap semuanya bisa berhasil.

Nyatanya tidak semudah itu ..

Karena tidak semua orang begitu menginginkan sesuatu yang sederhana itu.

Karena tidak semua orang begitu relanya mengorbankan hasrat demi orang lain.

Karena belum tentu peduli.

Belum tentu sudi.

Belum.

8838f66f83f9866b9bf0f35280a6c640

There Is No Hell Fire

Suka sekali dengan ini ..

—–

Sunday, December 29, 2013

pope

Shocking: There Is No Hell Fire; Adam & Eve Not Real ––– Pope Francis Exposes

One man who is out to open many old “secrets” in the Catholic church is Pope Francis. Some of the beliefs that are held in the church but contrary to the loving nature of God are now being set aside by the Pope who was recently name The Man of The Year by TIME Magazine…..

In his latest revelations, Pope Francis said:

“Through humility, soul searching, and prayerful contemplation we have gained a new understanding of certain dogmas. The church no longer believes in a literal hell where people suffer. This doctrine is incompatible with the infinite love of God. God is not a judge but a friend and a lover of humanity. God seeks not to condemn but only to embrace. Like the fable of Adam and Eve, we see hell as a literary device. Hell is merely a metaphor for the isolated soul, which like all souls ultimately will be united in love with God.”
In a shocking speech that is reverberating across the world, Pope Francis declared that:

“All religions are true, because they are true in the hearts of all those who believe in them. What other kind of truth is there? In the past, the church has been harsh on those it deemed morally wrong or sinful. Today, we no longer judge. Like a loving father, we never condemn our children. Our church is big enough for heterosexuals and homosexuals, for the pro-life and the pro-choice! For conservatives and liberals, even communists are welcome and have joined us. We all love and worship the same God.”

In the last six months, Catholic cardinals, bishops and theologians have been deliberating in the Vatican City, in discussing the future of the church and redefining long-held Catholic doctrines and dogmas. The Third Vatican Council, is the largest and most important since the Second Vatican Council was concluded in 1962.
Pope Francis convened the new council to “finally finish the work of the Second Vatican Council.”
The Third Vatican Council concluded with Pope Francis announcing that…

Catholicism is now a “modern and reasonable religion, which has undergone evolutionary changes. The time has come to abandon all intolerance. We must recognize that religious truth evolves and changes. Truth is not absolute or set in stone. Even atheists acknowledge the divine. Through acts of love and charity the atheist acknowledges God as well, and redeems his own soul, becoming an active participant in the redemption of humanity.”

One statement in the Pope’s speech has sent traditionalists into a fit of confusion and hysteria…
“God is changing and evolving as we are, For God lives in us and in our hearts. When we spread love and kindness in the world, we touch our own divinity and recognize it. The Bible is a beautiful holy book, but like all great and ancient works, some passages are outdated. Some even call for intolerance or judgement. The time has come to see these verses as later interpolations, contrary to the message of love and truth, which otherwise radiates through scripture. In accordance with our new understanding, we will begin to ordain women as cardinals, bishops and priests. In the future, it is my hope that we will have a woman pope one day. Let no door be closed to women that is open to men!”
A few cardinals in the Catholic church are against Pope Francis’ latest declarations. Watch out for the report.

Copyright © 2013 Diversity Chronicle All Rights Reserved.

*sumber dari sini

Rain, Coffee and Wanderlust

tumblr_maipocnXux1qb7cjk

Hari pertama di tahun yang baru. Ketika banyak orang yang sibuk menyusun resolusi selama 365 hari yang akan datang, saya lebih memilih untuk menoleh ke belakang. Mengingat apa saja yang sudah pernah dialami, semua kebahagiaan dan kegetiran.

Saya sudah lupa kapan terakhir beresolusi. Lucunya setiap beresolusi dulu, tidak pernah tuntas saya capai semuanya. Bahkan pernah tidak sampai 50%-nya. Tapi dengan seperti itu bukan berarti saya gagal dalam hidup, atau tidak bahagia. Justru semua hal yang terjadi di luar ‘rencana’ itu masing-masing menjadi jalan yang unik untuk saya bisa mencapai hal-hal yang tidak pernah saya bayangkan sebelumnya.

Ada satu keinginan saya (dulu selalu masuk resolusi tahunan tapi juga selalu gagal) yang masih kuat sampai sekarang adalah melihat negara lain. Keinginan saya tidak banyak, hanya tiga negara. Malaysia, Singapura dan Jepang. Tapi saya juga tidak menolak, andai Tuhan memberikan rute travelling ke negara yang lain dari tiga negara di atas tadi 😉

Mungkin tahun ini, tahun depan atau kapanpun, saya bisa merasakan hangatnya kopi dan damainya hujan di negara lain.

Semoga ..

*gambar diambil dari sini