Warung Pak Lanjar

Hey! Siapa yang tidak kenal kota Yogyakarta? Kota yang bisa dibilang sangat terkenal di bidang Pariwisata Indonesia ini, hampir setiap hari selalu dipenuhi banyak bus besar atau kendaraan berisi wisatawan di setiap sudutnya. Saya adalah salah satu (mantan) pengunjung setia Yogyakarta sejak tahun 1999 silam, semasa masih unyu-unyu mahasiswa tingkat awal dengan cukup berbekal uang sangu seadanya, berangkat dari Jakarta saya pede berangkat ke kota ini hampir satu bulan sekali. Bukan untuk mengunjungi tempat wisata-wisatanya, hanya mengunjungi teman-teman, menghabiskan waktu bersama mereka sambil menikmati kesederhanaan kota bersahaja ini. Ya, kesederhanaan. Saya pikir itulah kunci, mengapa Yogyakarta bisa terkenal ke seantero Indonesia bahkan ke luar negeri.

Dulu saat awal saya sering mengunjungi kota ini, jalan raya masih lengang sekali dengan hanya beberapa mobil berlalu lalang. Sesekali bis dalam kota menaikkan dan menurunkan penumpang. Sisa ruas jalan diisi oleh banyak pesepeda, andong atau pengendara motor. Bahkan masih lekat di ingatan saya, bagaimana para pengendara motor itu dengan santainya membuka “jendela” helm dan tidak menggunakan masker hidung. Membiarkan wajah mereka tersapu udara yang saat itu masih bersahabat.

Toko-toko sederhana berjejer apik. Tidak ada yang menjulang. Tidak ada yang berdiri lebih maju atau menumpang bagian depan toko lain.

Semua serba sederhana.

Sejak 5 tahun yang lalu, saya sah menjadi penduduk kota sederhana ini. Menyaksikan bagaimana Yogyakarta mempercepat langkahnya berubah menjadi kota modern. Betapa hiruk pikuk mulai mengisi ruang-ruang lega, dimana dulu saya bisa merasakan nikmatnya jauh dari keramaian.

Mall bertingkat-tingkat megah, berdiri disana sini. Bermacam toko, restaurant, pusat hiburan dengan design mewah dan modern menjamur. Meninggalkan sesak di sepanjang jalan-jalan kota tua ini.

Saya tidak menyalahkan semua hal itu, terkadang saya hanya rindu kedamaian di kota tua ini. Suasana yang sahaja, dan tidak penuh basa basi. Suasana sahaja yang baru bisa saya dapatkan ketika mblusuk kesana sini, mengunjungi tempat-tempat di luar lingkar kota Yogya.

Minggu lalu, saya punya kesempatan mengunjungi sebuah rumah makan. Lokasinya menjauh dari pusat kota. Setelah menyusuri jalan Palagan yang menanjak, keluar dari daerah dengan jejeran toko di kanan kiri, mata saya mulai disuguhi deretan sawah, pepohonan dan ladang. Yang memang musim kemarau panjang ini, berwarna tidak sehijau seharusnya. Tapi bagaimanapun berada di tengah alam, sudah membuat hati saya nyaman.

Rumah makan berbentuk semacam joglo, diapit ladang dan terbuka di sisi kanan kirinya. Memungkinkan kita untuk memandang keluar dan merasakan semilir angin sambil duduk menunggu pesanan datang. Bangku-bangku dan partisi kayu jati lama, lantai tanpa keramik, dinding bata merah, lampu taman klasik, tempat luas dan lengkap dengan bale-bale, mengingatkan saya kepada rumah simbah. Buat saya yang tidak terlalu suka keramaian, berada disini saja sudah cukup menghibur. Namun ada ternyata ada juga fasilitas karaoke untuk yang ingin lebih memeriahkan suasana. Mulai dari lagu lawas, sampai terkini. Lagu bahasa Indonesia, Barat sampai Mandarin. Semua lengkap, tinggal pilih, setel, dan nyanyi ! Gratis dan sepuasnya. Ada juga bangku dan meja di teras, yang kalau malam tiba akan disirami cahaya dari lampu taman, pasti syahdu. Aish πŸ˜€

P_20151010_113435_BF

P_20151010_113333_BF

Sambil ngobrol dengan teman-teman, seperti biasa saya bengong hehe. Saya berpikir kenapa sang pemilik memilih membuka Rumah Makan jauh dari keramaian seperti ini. Bukankan akan lebih menguntungkan bila membuka usaha dengan mendekati pusat keramaian. Apalagi dengan menu seperti Nasi Goreng Spesial, Bakmi Goreng/Godog, Ayam Rica-Rica, Capcay dan beberapa menu lokal lainnya, tentu akan sangat laris manis. Saya sempat merasakan semua menu itu, dengan harga makanan 2500 – 12.500 dan minuman 2000 – 8000 saja saya bisa mendapatkan pelayanan dan rasa makanan yang memuaskan.

sang Bakmi Goreng yang cetarr spesialnya :D

sang Bakmi Goreng yang cetarr spesialnya :D

Nasi Goreng Spesial feat Rica-Rica Ayam yang ndak kalah spesial ;)

Nasi Goreng Spesial feat Rica-Rica Ayam yang ndak kalah spesial ;)

kalau satu ini, tentu favorite nya emak-emak yang lagi (niat ndak niat) diyet kaya saya ;D

kalau satu ini, tentu favorite nya emak-emak yang lagi (niat ndak niat) diyet kaya saya ;D

Pertanyaan saya tadi terjawab ketika bertemu langsung dengan Pak Lanjar, nama yang sama dengan rumah makan ini, Warung Pak Lanjar. Dengan tampilan yang sangat sederhana, dengan masih lap masak tergantung dari saku celananya beliau menyalami kami dengan sangat ramah. Ya, beliau pemilik sekaligus memasak sendiri makanannya disini. Saya dengar beliau sangat berpengalaman dalam bidang kuliner, memasak untuk orang penting dan puluhan tahun di hotel hotel berbintang. Tapi buat saya bukan itu kelebihan beliau. Dari sorot mata dan lengkung senyumnya saya melihat ketulusan. Ah saya tidak tau pasti, tapi saya seperti merasakan bahwa bukan hanya mencari keuntungan yang beliau cari, tapi mengalirkan kebaikan. Semoga berkah, Pak !

Untuk saya, inilah gambaran Yogya yang sesungguhnya.

Dan saya pasti akan kembali lagi untuk Sayur Lodeh, Roti dan Pisang Bakarnya ! πŸ˜‰

P_20151010_123715_BF

senyumnya makin sumringah setelah satu-satu makanan enak keluar ;D

senyumnya makin sumringah setelah satu-satu makanan enak keluar ;D

Oh iya, karena tempatnya yang luas disini bisa untuk menggelar acara-acara formil atau non formil untuk group. Tanpa dikenakan tambahan biaya untuk tempat. Silahkan hubungi kontak yang di bawah ini untuk tanya-tanya ya. Atau mungkin ada yang penasaran ingin langsung icip-icip macam-macam menu spesialnya, bisa langsung ke tepatnya Ds. Banteran, Sinduharjo, Ngaglik, Sleman, Yogyakarta. dari arah Monjali (Monumen Jogja Kembali), sila masuk ke timur ke Jl. Palagan. Lanjutkan perjalanan sampai melewati Hyatt Regency Yogyakarta Hotel, terus saja sampai melewati belokan tajam ke kiri akan menemui jalanan bercabang, ambil arah kiri. Boleh pelan-pelan dari jalan kiri ini, di sebelah kanan nanti akan ada plang besar Warung Pak Lanjar, ikuti belok kanan dan 50 meter lagi akan sampai di rumah makan tersebut daaaan selamat bersenang-senang ! πŸ˜€

P_20151010_133146_BF

Telp: (0274) 883552
Instagram : @WarungPakLanjar
Website : www.warungpaklanjar.com

Recent Fav'

Kalo tidak salah, bapak penjual Mie Ayam ini, pagi – pagi sudah mejeng disekitaran RS Kramat, Jalan Kramat – Jakarta Pusat. Tepatnya di seberang sekolah Muhammadiyah. Rp. 7.500,- (termasuk 3 butir bakso, dan 3 helai pangsit goreng).

Tahu Campur khas Lamongan, begitu judulnya. Mulai buka kira – kira lepas waktu sholat Maghrib. Tempat berjualannya sejajar dengan McD Tebet, Jalan Soepomo Tebet – Jakarta Pusat. Kurang lebih Rp. 8.000,- . Khusus penggemar telur yang ingin menambahkan telur pada menu ini, jangan lupa memesan dengan embel – embel “telur”.

Tahu Tek, juga khas Lamongan. Seatap dengan Tahu Campur. Ada juga Soto yang lagi – lagi khas Lamongan, sayang tiada sempat memotret. Harganya pun sekitar Rp. 8.000,- Dengan porsi yang dijamin cukup buat mengganjal lambung berukuran Medium.

Sate Padang yang satu ini, adanya di dekat rumah saya, sekitaran Rawamangun – Jakarta Timur. Di salah satu sisi trotoarnya Pasar Sunan Giri, yang sejajar dengan seberangan dengan Rumah Makan Sederhana yang harganya tidak sederhana. Buka dari siang sampai malam. Harganya kalo tidak salah Rp. 10.000,- untuk 8 tusuk. Harga juga bisa disesuaikan bagi yang ingin menambah tusukan (dengan isi tentunya)

Sekian perburuan kuliner untuk kali ini. Mudah – mudahan rejeki terus mengalir, supaya bisa terus melahap makanan yang enak. Aamiin. Bagi yang berminat, dan butuh jasa saya sebagai guide, dengan senang hati saya akan meluangkan waktu dan lambung saya πŸ˜‰

Perut kenyang, hati senang πŸ˜€