4 Cara Cepat Mahir Setir Mobil

car

Melihat perkembangan otomotif di Indonesia sekarang seperti menegaskan bahwa mobil dulu yang merupakan kendaraan mewah kini tidak lagi memiliki posisi yang sama. Kendaraan roda empat ini kini semakin mudah untuk dapat digunakan, ragam kemudahan dalam pembelian unit mobil baik baru maupun bekas dan menjamurnya usaha persewaan dengan syarat dan harga yang masih dapat terjangkau.

Saya sendiri adalah salah satu orang yang beruntung yang sejak kecil dapat merasakan mobil milik orangtua. Selain karena anggota keluarga yang lebih dari 3 orang, alasan orangtua dulu membeli adalah kemudahan transportasi mengingat mereka bekerja dengan jarak tempuh dari rumah ke kantor masing-masing yang cukup jauh. Tapi meskipun begitu, saya tidak pernah bisa benar-benar menyetir mobil sendiri. Dulu semasa SMA saya pernah β€œbisa” menyetir, tapi lalu lebih banyak khawatir di jalan oleh orang tua membuat saya ciut dan lalu urung bisa berlatih hingga lancar, walaupun sudah merasakan sampai lulus kursus menyetir.

Hingga usia saya 35 tahun inilah saya punya kesempatan memiliki mobil β€œsendiri”. Awal-awal ada kendaraan tersebut ada di rumah, saya masih mengandalkan pak suami untuk mengantar bila ada keperluan. Selebihnya saya masih setia melakukan aktivitas dengan motor. Banyak hal yang membuat nyali masih ciut untuk membawanya sendiri, hingga suatu saat saat ketika pak suami harus pergi beberapa lama keluar kota. Merasa aneh sendiri ketika ingin sekedar memanaskan mobil, saya takut untuk salah tekan ini atau itu. Lalu berpikir bagaimana jika ada kondisi darurat dimana hanya saya dan anak sendirian di rumah dan butuh menggunakan mobil, duuh masa saya ndak bisa?

Akhirnya bermodal tekat dan nekat sayapun mulai belajar lagi, ada beberapa pelajaran yang berharga yang didapatkan kali ini. Yang dulu tidak saya lakukan, sehingga saya selalu urung mahir menyetir. Bila ada yang merasa sulit belajar menyetir, mungkin melewatkan hal-hal berikut :

1. Pengajar yang dipercaya
Dulu semasa saya ikut kursus menyetir mobil, pengajarnya selalu berganti-ganti sesuai dengan jadwal mereka. Jadi bila saya tidak bisa mengikuti jadwal salah seorang pengajar, ya saya harus rela diajar oleh pengajar lain yang walau memiliki ilmu sama, tetapi jelas dengan cara melatih yang berbeda. Apalagi dapat pengajar yang kurang ramah atau mudah emosi. Ini salah satu yang menurut saya membuat proses belajar sedikit terganggu, karena kita harus menyesuaikan kembali dengan pengajar yang baru. Belum lagi bila kursus tersebut membawa lebih dari satu orang yang kursus, yang ganteng atau cantik. Haduh grogi nya jadi berpangkat banyak :green:

shakes

Tips saya :
Pilih satu pengajar yang kita percayai sepenuhnya. Dimana kita tidak perlu takut atau jaim dalam berkomunikasi dengannya. Bisa orang yang dekat dengan kita, karena proses menerima hal baru akan menjadi lebih mudah ketika kita mendapatkannya dari orang yang kita percaya. Tetap belajar pada satu orang itu sampai kita benar-benar bisa menyerap dan mempraktekan ilmunya. Belajar pada satu orang akan membuat kita lebih fokus dan konsisten dalam meningkatkan kemampuan.

2. Percaya diri
Tanpa percaya diri jangankan menyetir mobil, berjalan kaki melewati orang lain saja akan terasa kikuk. Harus diingat-ingat motivasi awal mulai belajar, lalu semangati diri sendiri bahwa kemampuan kita tidak dibawah orang lain yang lebih dulu mampu dan lancar menyetir mobil. Saya dulu lebih termotivasi saat melihat nenek sepuh yang menyetir sendiri πŸ˜€

Tips saya :
Kenali diri sendiri, jam berapa biasanya kita merasa bisa untuk belajar. Lalu jadi diri sendiri saja, jangan sungkan apalagi gengsi bertanya bila kita memang belum bisa atau belum tau.

Kenakan pakaian yang nyaman, karena awal belajar kita pasti akan canggung untuk melakukan apapun, seringkali berkeringat walau di dalam mobil yang ber-AC haha. Pakaian yang tidak nyaman akan membuat kita makit sulit untuk melakukan apa-apa.

Gunakan alas kaki yang nyaman, ini penting ! Karna sikap awal kita, akan membentuk kebiasaan kita selanjutnya. Walaupun banyak yang bilang akan lebih mudah memperkirakan injakan pedal gas tanpa alas kaki, namun bila kita terbiasa menggunakan alas kaki saat awal, selanjutnya akan lebih mudah walau kita nantinya kita ingin menyetir dengan alas kaki atau tidak. Tapi tidak sebaliknya, beberapa orang yang saya kenal terbiasa untuk tidak menggunakan alas kaki saat menginjak pedal, maka akan sulit baginya untuk tetap menggunakan alas kaki saat menyetir.

Percaya kepada mobil yang digunakan, ini salah satu pelajaran berharga yang saya dapat kemarin. Sebelum mulai masuk ke dalam mobil, perhatikan dengan seksama bentuk mobil, letak roda, ukuran kaca spion, panjang hidung mobil dan bagian belakang. Lalu ketika masuk ke dalam mobil perhatikan kembali hal-hal tersebut. Sehingga kita bisa memperkirakan sebesar apa mobil kita itu dan sejauh mana kita dapat menempatkannya.

vintage-car-376539_1920

3. Teliti dan lakukan perlahan
Ketika kita sudah mengenali mobil kita, perhatikan batas-batas mobil tersebut. Bila saya berjalan lurus pada tengah ruas jalan perhatikan baik-baik dari dalam pada kaca depan mobil, mana batas kanan – kiri bagian depan lalu siknronkan bagian belakangnya dengan lirik ke spion kanan – kiri. Itu akan mempermudah kita saat harus menepi mepet atau berbelok di tingkungan. Misal, saya memastikan bahwa tidak terlalu mepet keluar dari ruas jalan ketika lihat ke spion kanan – kiri bagian bawah (aspal atau garis marka jalan) maka akan terlihat dimana posisi mobil kita apakah masih di dalam ruas jalan atau sudah keluar.

P_20160419_142324
Ini adalah posisi saya di balik setir, saya buat patokan batas kiri jalan ‘seakan’ ada di tengah lapang pandang depan

Banyak melihat kaca spion kanan, kiri dan belakang. Karena itulah pengganti mata kita untuk melihat kendaraan lain di sekitar kita.

P_20160419_142242
Lirik spion kanan, selama batas mobil kita masih di bagian ‘dalam’ alias tidak melebihi pembatas jalan, berarti posisi kita aman berhadapan dengan kendaraan dari lawan arah.

P_20160419_142328
Lirik spion kiri untuk perkirakan jarak kita dari bahu jalan, biasanya saya gunakan saat ingin menyalip pengendara motor atau pejalan kaki di sebelah kiri.

Tips saya :
Bila kondisi jalanan ramai dan atau kita belum yakin pada kondisi sekitar, berjalanlah pelan sambil memperhatikan depan dan kaca spion. Bila kita berjalan pelan dan ketika tidak sengaja terjadi kecelakaan, efeknya juga tidak akan berat. Dan jangan khawatir, kendaraan lain itu juga dikendarai oleh manusia yang berpikir. Jadi bila bertemu suatu kondisi yang mengharuskan mereka menghindar, bila tidak sial, mereka juga pasti akan menghindar.

Bagi pemula cari tempat parkir yang minimal bisa melakukan kesalahan, misal lebih baik yang lokasinya tidak mendekati pembatas jalan, dinding, atau mobil lain. Bila terpaksa (dan memang harus memaksa diri untuk bisa) parkir di tempat yang terbatas, lakukan perlahan. Tenangkan diri dan tidak perlu terburu-buru, kita tidak akan ditilang kok bila lama dalam memarkir kendaraan. Dalam parkir mundur, saya biasanya akan mengentikan mobil sejenak saat memutar haluan roda, bila kira-kira arah roda yang saya putar sudah sesuai yang saya inginkan, baru saya mulai injak gas lagi untuk mundur.

Saat putar balik di ruas jalan 2 arah, fokus dan tenang melihat sekitar, lalu percaya diri mulai jalan perlahan sambil memberi tanda (kedip lampu jauh) bila jarak kendaraan lain sudah memungkinkan untuk berhenti untuk memberi kita jalan. Abaikan ekspresi pengendara lain yang kesal atau marah karena terpaksa berhenti bila badan mobil kita memotong perjalanannya atau antrian yang mengular. Karena tidak akan lebih dari 2 menit proses kita berputar balik

4. Berani mencoba
Menurut saya ini yang paling berpengaruh pada progres lancarnya menyetir. Saya nekat membawa mobil sendiri setelah 3 kali pertemuan dengan pengajar saya. Dengan membawa penumpang 6 orang, yang berteriak sepanjang jalan πŸ˜€ Walau masih tersengal-sengal injak gas, pindah kopling yang belum halus, dimarahi oleh pengendara lain bila memotong jalan atau berjalan terlalu mepet dengan kendarannya, belum bisa parkir lurus, masih canggung memutar balik atau tarik gas di tanjakan yang curam saya tetap berusaha tenang dan percaya diri. Karena menyetir untuk saya adalah experimental learning, maka harus berani dan banyak berada di lapangan untuk menghadapi langsung adalah cara yang tepat bagi saya agar cepat mahir.

Tips saya :
Patuhi marka atau peraturan lalu lintas – berkendara dan jangan lupa mengenakan safety-belt yaa. Ketika bertemu lampu kuning segera melambat lalu berhenti. Tidak perlu takut dimarahi oleh kendaraan belakang, abaikan suara klakson yang mengintimidasi, karena yang kita lakukan sudah benar.

Jangan takut mencoba medan baru, semakin kita berpengalaman terhadap medan baru akan mempermudah kita lain kali bila menemui medan yang lebih sulit.

Lengkapi diri dengan Surat Ijin Mengemudi. Ketika kita benar dan patuh peraturan, kita tidak khawatir berada di jalan, otomatis akan lebih nyaman berkendaraan.

Nah demikian pengalaman saya dalam belajar menyetir. Hasilnya singkat saja, hanya selang 2 minggu dari pertama mulai belajar saya sudah was wes wuuuss di jalanan. Semoga berguna ya.

Kalau tipsmu bagaimana? Hayuuk mulai belajar ! siapa yang ingin belajar, dengan senang hati saya akan menemani dan belajar bareng .. karena kalau saya bisa, semua pasti bisa ! πŸ˜€

Kartini (riwayatmu) Kini

Dua hari yang lalu, saat saya sedang mampir di sebuah salon kecil di pelosok sebuah desa, puluhan anak kecil seusia TK – SMP bersama orangtuanya masing-masing datang bergantian ke salon tersebut. Rupanya datang untuk menyewa pakaian nasional seperti kebaya atau beskap untuk acara Hari Kartini di sekolahnya masing-masing. Awalnya saya tidak begitu tertarik dengan kejadian itu, sampai pada suatu waktu sang pemilik salon membuka cerita.

“Dalam satu tahun mbak, salon itu punya 2 kali panen; pertama saat Lebaran dan kedua ya saat Kartinian begini..”
Mau tidak mau, sayapun menimpali obrolan sang ibu salon tersebut “Wah panen bu? berarti banyak yang bisa didapat ya?” tanya saya kepo.
“Yaa lumayan lah mbak, kalau satu sewa satu pasang kebaya – kain – selop saja, saya pasang harga Rp. 50.000,- kalau pake dandan disini saya bisa dapet Rp. 75.000,- dari tiap anak”
Otak emak-emak saya pun berputar cepat, dalam waktu 2 jam selama saya di salon itu saja, sudah sekitar 10-15 anak yang datang. berarti ibu salon minimal sudah mengantongi Rp. 500.000,- – Rp. 1.125.000,- dalam 2 jam itu. Wah, banyak! Padahal saya sebagai mantan preman pasar Tanah Abang tau sekali hitung-hitungan modal untuk membeli kebaya-kebaya model “asal jadi” itu berapa.

Sebenarnya ya saya hepi-hepi saja melihat sang ibu salon mesem-mesem karena tau akan dapat uang banyak, tapi satu sisi hati saya miris. Melihat anak-anak tersebut jadi bahan “permainan” orang orang tua di sekelilingnya berdalih Hari Kartini. Dari beberapa anak yang sempat saya tanyai, kebanyakan acara yang akan mereka lalui adalah tidak lebih dari prosesi simbolis. Modelling, pawai, upacara yang menggunakan kebaya atau pakaian nasional. Sebenarnya tidak ada yang salah dengan acara tersebut di atas, walaupun saya tidak pernah suka dengan yang namanya hal bertele-tele itu. Namun bila melakukan perayaan atas satu hal namun justru menghilangkan esensi dari hal tersebut, apakah itu bukan suatu kesia-siaan?

Contoh lainnya, menggelar perayaan wisuda untuk kelulusan SD, SMP atau bahkan SMA. Mengistimewakan sesuatu yang seharusnya menjadi hal yang biasa saja. Menjadikan generasi mereka menjadi orang-orang yang merasa cepat puas, haus akan perayaan dan penghargaan, tumpul.

… lalu tanpa terasa langit sore sudah menggantung di pelupuk mata. Ah sudahlah, mungkin memang harus seperti ini kita berproses. Tidak harus melulu menjadi lebih baik, justru kemunduranlah yang “mungkin” bisa menjadi motivasi menuju ke perubahan yang pesat.

Semoga.

Bakso Pangsit Ayam Udang

Karena tergiur diskon gede-gedean di pembukaan hypermart baru dekat rumah, saya memborong banyak daging ayam cincang dan udang jerbung yang padahal saya belum tau mau dibuat nanti. Pikir saya, ah yang penting sudah ada di rumah dulu, besok baru dipikir mau masak apa.

Semalaman itu masih belum punya ide, sampai esok paginya saya membaca salah satu upload foto teman saya di situs facebook, dimana dia membuat pangsit rebus untuk mpasi anaknya. “Nah! ini diaaa” pikir saya. Malamnya saya baru membeli kulit pangsit siap pakai (karena ubek-ubek pasar di dekat rumah ternyata ndak ada), 7k untuk 20 lembar pangsit)

ini bentuk jadinya ;)

ini bentuk jadinya ;)

Karena saya tipe pemalas, jadilah saya putuskan untuk menghabiskan kesemua bahan yang ada, setidaknya dibuat adonan siap masak sisanya. Tapi andai ke-20 pangsit tersebut dibuat pangsit rebus, sepertinya kok ya membosankan. Akhirnya saya modifikasi menjadi beberapa bentuk masakan.

Bahan isian :
150gr daging ayam cincang
100gr udang jerbung cincang (resep asli pakai ikan)
2 bawang merah + 2 bawang putih haluskan
daun bawang cincang secukupnya
lada, garam, merica, kaldu bubuk sesuai selera
1 telur ayam kocok lepas
2 sdm tepung tapioka
resep asli pake minyak wijen (saya skip, karena mahal xD )

– semua bahan aduk rata, saya buat 3 bentuk :

1. Pangsit Rebus

Bentuk di dalam kulit pangsit, kukus selama 30 menit (jangan lupa olesin sedikit minyak di dasar kukusan, biar ndak lengket). Setelah itu bisa langsung disusun di atas mangkok sebelum disiram kuah.

2. Pangsit Goreng

Bentuk di dalam kulit pangsit, kukus selama 30 menit lalu goreng sampai kekuningan, angkat.

3. Bakso Ayam – Udang

Sisa adonan dibentuk bulat-bulat
Masukkan ke dalam rebusan kuah pangsit yg sedang mendidih sampai mengapung.

Kuah Pangsit/Bakso :
500ml air kaldu (bisa ditambah kaldu asli)
4 bawang putih cincang halus
garam, kaldu bubuk sesuai selera
resep asli pake kecap asin (aku ndak pake karna lupa, selak laper)

*proses pembuatannya lupa difoto, karena terburu-buru mengejar jam makan siang Adam πŸ˜€

Karena diutamakan untuk makanan Adam, saya tambahkan sayuran wortel yang sudah diiris halus panjang-panjang ke dalam kuah. Sebelum disajikan, tambahkan soun yg sudah direbus.

Setelah semua disusun dalam mangkok, siram dengan kuah dan taburi bawang goreng deh. Untuk yang suka, bisa ditambah saus pedes lebih enyus. Dimakan panas-panas, bikin perut jadi haaangat!

Adam lahap sekali makannya, apalagi ketika saya tambahkan telur rebus bulat ke dalam mangkoknya. Ibuknya ikut lahap, karena hepi bisa membuat Adam lahap makan hihihi πŸ˜‰

Dan Jemuran Yang Menumpuk Itu …

Pekerjaan rumahtangga memang tidak akan ada habisnya. Selesai saya menyelesaikan yang satu, yang lain sudah menunggu untuk diselesaikan. Katakanlah menyapu, mengepel, mencuci piring dan baju, mengganti sprei yang kotor, membereskan mainan Adam (hal ini sengaja saya lakukan sesering mungkin, agar Adam terbiasa dengan lingkungan yang rapih, semoga alam bawah sadarnya sudah bisa merekam dengan baik sehingga tanpa diminta dia akan berusaha membuat lingkungannya lebih rapih), membersihkan kulkas dan dapur, mencuci kamar mandi, dan seterusnya dan seterusnya.. Biasanya saya selalu melakukan semua pekerjaan itu dengan semangat. Tanpa ada beban. Tapi ada satu pekerjaan yang paling saya tidak sukai. Menyetrika!

Saya termasuk pribadi yang maunya menyelesaikan segala sesuatu dengan baik. Termasuk menyetrika ini, makanya waktu saya jadi banyak terbuang terpakai jika saatnya menyetrika. Setiap sudut baju atau celana saya setrika dengan hati-hati sehingga licin dan rapih. Tantangan selanjutnya adalah berusaha melipat pakaian yang andai nanti ingin digunakan tidak meninggalkan garis lipatan yang mengganggu “pemandangan”. Saya juga harus punya waktu khusus dimana tidak diganggu oleh pekerjaan lain (saya tidak suka memburu-buru diri) atau diganggu Adam. Belum lagi saya harus menyediakan kipas angin dan televisi supaya saya tidak kepanasan dan bosan. Hahaha lebay kan? πŸ˜€

Menyewa ART? Saya sudah pernah coba, dan kebetulan belum cocok. Latar belakang kehidupan memang membuat perbedaan besar dalam keseharian masing-masing orang. Dan ART saya ini termasuk orang yang “sembarangan” dalam mengurus rumah. Alhasil, bukannya memiliki waktu yang lebih banyak untuk mengerjakan hal lain, saya dan suami malah harus mengulang kembali pekerjaan rumah yang sudah dia kerjakan. Entah tidak bersih menyapu dan mengepel, alat-alat rumah tangga yang tidak bersih dicuci, baju-baju yang masih terdapat noda atau baju yang rusak karena salah menyetrika. Beruntunglah saya, di sekitar rumah kami kini ada jasa menyetrika yang murah-meriah. Sekitar Rp.1500,-/kg saja! Murah kan? Dalam waktu sebulan, kami menghabiskan uang tidak lebih dari Rp.50.000,- untuk biaya menyetrika dan mencuci beberapa baju yang tidak sempat tercuci atau bahan yang sulit dicuci seperti sprei, jaket atau celana jeans. Jauh lebih ekonomis dibanding saya harus membayar gaji ART yang besarnya 7 kali lipat biaya tadi. Dan yang lebih penting, saya tidak harus menghabiskan tenaga lebih untuk manyun dan ngotot menyetrika atau mengajarkan ART yang tidak peka. Seperti siang ini, saya sudah siap membawa seplastik besar jemuran kering untuk disetrika. Terimakasih yaa mbak-mbak penyetrika πŸ˜‰

Cumi Lombok Hijau

Mau posting resep makanan lagi aja deh, gpp dong yaa .. Daripada posting yang bikin mumet-mumet hihihi.

Awalnya karena saya sukaaaa sekali dengan cumi. Mau dimasak apapun, pasti habis kalo sudah di depan mata. Jadi waktu awal-awal tinggal bareng suami, di tempat yang ada dapurnya, selain eksperimen ayam goreng (yang mana adalah makanan favorite suami) cumi adalah menu eksperimen prioritas kedua. Setelah mencoba berbagai macam olahan cumi yang dicontek dari resep sana-sini, ternyata yang paling bikin penasaran adalah Cumi Lombok Hijau. Tapi setelah sering kali mencoba cara memasak cumi, entah itu digoreng 1/2 matang, digoreng tepung atau direbus terlebih dahulu, hasilnya tetap sama; cuminya selalu masih terasa keras saat mau dimakan *doh*

Pencerahanpun datang tadi pagi, saat belanja di ibu penjual ikan laut yang seminggu sekali keliling komplek perumahan. Saya nekat bertanya; “bu, saya kalo masak cumi .. kok selalu keras ya? perlu diolah apa, atau dikasih apa gitu bu, biar lunak?” Sang ibu penjual ikanpun menjawab; “neng, masak cumi itu ndak usah lama-lama, cukup sebentar saja, 1-3menit. supaya ndak keras, semakin lama dimasak nanti akan semakin keras.” Dalam hati langsung manggut-manggut sendiri, ternyata begitu tho rahasia memasak cumi.

Siangnyapun langsung saya praktekkan. Cumi yg biasanya saya masak apa adanya (kadang air rebusan yg masih berwarna tinta, ikut saya masukkan, karna memang masakan jadi lebih gurih. tetapi merusak “pemandangan” masakan yang akan menjadi legam), kali ini saya bersihkan semuanya. Termasuk kulit ari/tipis cumi yang berwarna hitam menerawang itu. Ingin masakan kali ini, rasanya tidak terganggu dari gurih tinta cumi. Cara memasaknya mudah, dan cepat.

Bahan-bahan
Cumi segar (bersihkan, kupas kulitnya, potong-potong sesuai selera)
2 sdm margarine
Bawang putih 2 siung
Bawang merah 3 siung
Serei 1 buah (geprek)
Lengkuas 3 cm (geprek)
Air putih 100ml
Cabe hijau besar (iris serong)
Cabe rawit merah (iris serong)
Daun jeruk 2 lembar
Air jeruk nipis (peras dari 1/2 butir jeruk nipis)
4 buah tomat kecil, belah 2 (atau 1 buah tomat besar, potong dadu)

Cara membuat
Tumis bawang putih sampai harum, masukkan bawang merah
Masukkan cabe hijau, cabe rawit, serei dan lengkuas, sampai aroma harum keluar
Masukkan cumi, tomat dan air jeruk nipis. Aduk rata, tambahkan air, gula dan garam sesuai selera
Tunggu sampai bumbu teraduk rata, dan cumi empuk
Angkat dari wajan, sajikan

Nah! Beginilah hasilnya. Waktu memasak jadi lebih singkat, cumipun kriyes-kriyes, empug dimakan πŸ˜‰