
Suatu siang di sebuah ruangan lapang yang senyap dan dingin. Suara denyut alat monitoring membelah hening, kelap kelip indikator berdetak bersama detik jam dinding. Tubuh tubuh setengah nyawa tergeletak tak berdaya.
Malaikat penjemput ruh menanti dengan sabar, sampai hitungan mundur umur berakhir.
Gadis manis, 15 tahun, usai kecelakaan motor bersama teman, saat akan merayakan hari ulang tahun nya, setelah sempat sadar untuk beberapa jam, kemudian tidak lagi bangun sampai seluruh kemampuan pertahanan hidupnya perlahan berhenti bekerja. Ibu yang berulang kali tidak sadar diri ketika dijelaskan, bahwa anak yang pernah dan selalu dia pertaruhkan hidup dan nyawa untuknya itu tidak lagi hidup melainkan atas bantuan alat bantu pernapasan dan obat pemacu jantung. Ayah yang meleleh seluruh keperkasaannya, ketika terpaksa harus melepaskan sendiri semua alat bantu hidup yang melekat ditubuh mungil yang dulu pernah dia sambut lahirnya dengan sukacita dan asma kebesaran Allah, kini asma kebesaran Allah beriringan dengan duka dan kecewa mendalam, saat henti denyut dan napas sang anak terkasih berada di ujung jari-jarinya.
Duda 27 tahun, dengan kondisi yang tidak jauh beda, harus meninggalkan seorang anak perempuan yang belum genap 3 tahun tanpa Ibu. Seorang kakak tidak habis airmata, menggenggam erat tangan yang selama ini dia bimbing, menciumi kaki yang selama diharapkan segala kebaikan untuknya. Mengusap seluruh tubuh yang lemas tanpa reaksi, meratap sambil berharap sang adik terbangun sebelum semua alat bantu hidup dimatikan, sebelum obat pemacu jantung berhenti bekerja.
Suami terbaik dan Ayah tercinta untuk sebuah keluarga besar yang rukun ..
Ibu terhebat sekaligus Istri terkasih ..
Satu satu pergi kembali kepada penciptanya.
..
Setiap orang selalu bermimpi kebaikan, kerap berusaha meraih kebahagiaan. Lupa bahwa kematian adalah yang nyata.
Entah kapan. Entah dimana. Entah bagaimana.
Orang-orang terkasih di sekeliling yang kita pikir tidak lebih penting dari diri kita sendiri, yang kita pikir akan selalu ada kapan saja kita butuh, nyatanya sewaktu-waktu dapat pergi, pun kita sendiri.
Kepada mereka yang meninggalkan kita, segala permohonan maaf yang belum sempat diutarakan. Rasa sesal, amarah dan atau kecewa yang masih dipendam. Tanda cinta dan sayang yang tidak sempat dilakukan. Rahasia gelap yang tidak tuntas dibersihkan. Hanya akan menjadi sampah sisa, tidak berguna. Bergelayut sepanjang umur, di belakang kepala dan di dada.
Hanya butuh beberapa detik dari puluhan ribu detik yang milikmu setiap harinya, sempatkanlah. Demi meringankan segala kesulitan. Di dunia, dan akhirat.
