Kelilipan

H ari ini hati saya “kelilipan” lagi.

K ali ini datang dari wanita yang belum saya kenal. Seorang residen Orthopedi.

Kemajuan seseorang, dinilai dari semakin besar tanggung jawab yang dipikulnya. Dan bagaimana kita bisa mendapatkan tanggung jawab yang besar, andai tanggung jawab yang kecil-kecil saja tidak dapat kita tangani

Ginga Amirul Muizz

M elanjutkan berita anak hilang dari salah satu sahabat blogger mas Awan (salam kenal mas..)

S ejak hari Jumat (24/10) sekitar pukul 16.00 sore, keponakan laki-laki anak kakak pertama mas Awan hilang meninggalkan rumah.

  • Bernama Ginga Amirul Muizz, seorang pelajar kelas 3 SMP Budiwarman I, Kramat Jati, Jakarta Timur.
  • Umur 15 tahun, berciri-ciri tinggi sekitar 165 cm, berkulit putih dan berkaca mata.
  • Alamat Jl. Masjid Almunir Rt. 012/02 No. 6 Makasar, Jakarta Timur.
  • Terakhir mengenakan kaos Bank Mandiri warna putih dan celana panjang abu-abu.
  • Dari rumah ke Primagama jalan kaki sendiri, dari Primagama jam 16.00 juga sendiri. Setelah itu belum ada kabar beritanya sampai sekarang.

P ada hari Sabtu (25/10), dia sepertinya berada di kota Bogor daerah Juanda dan sekitarnya, tetapi saat dicari di sana sampai hari Senin (27/10) tidak ketemu. Sehingga sekarang pencarian lebih banyak di Jakarta meskipun Bogor juga masih tetap dipantau.

A pabila teman-teman menemukan anak dengan ciri-ciri seperti diatas, mohon agar menghubungi nomor-nomor berikut: 08881023425 (ayahnya), 021-8008127 (rumah eyangnya), 08129800253 (Awan), 08881800142 (tantenya)

B agi sahabat-sahabat lain yang berkenan meneruskan berita ini, saya pribadi hanya bisa mengucapkan banyak terimakasih. Karena dukungan sekecil apapun akan sangat berarti. Dan semoga keluarga besar mas Awan diberikan ketabahan dan cepat kembali dipertemukan dengan Ginga. Aamiin.

Aargh..

23 Agustus – 22 September


Karakter Virgo
Tradisional


Rendah hati dan pemalu
Dapat dipercaya
Praktikal dan rajin
Pandai dan analitikal

Di sisi lain

Khawatir
Terlalu kritis
Perfeksionis

K hawatir, Terlalu kritis dan Perfeksionis? Apa karena sifat-sifat ini, saya merasa bermasalah menghadapi orang-orang egois, sok pintar dan sok berkuasa di sekeliling saya? Cuma bisa menyalahkan tanpa memberi solusi.

A rghh.. Andai saja saya tidak punya sopan santun.

Dewasa ?

T erinspirasi (lagi) dengan salah satu tulisan si paKDhe sang sahabat jail. Dengan salah satu cuplikan kalimatnya;

… di suatu hari ada seorang temen yang bilang, “kedewasaan seseorang bukan dinilai dari hidupnya yang ndak pernah bermasalah tapi dari caranya menyelesaikan setiap masalah dalam hidupnya”.

B ahwa pernah atau tidaknya seseorang bermasalah dalam hidup, memang nyatanya tidak menjadi jaminan mutlak bagaimana status kedewasaannya kelak. Seseorang yang sangat bermasalah di masa kecil atau sampai remaja, bahkan bisa sangat berhasil di masa dewasanya. Tapi tidak sedikit kasus dimana hal tersebut terjadi sebaliknya. Atau seorang anak yang bahagia di masa kecilnya-pun, punya persentase yang sama antara menjadi berhasil atau juga menjadi seorang gagal di masa dewasanya.

S aya tidak bercita-cita menjadi intan dari batubara. Walau begitu, sayapun tidak bisa menghindari tekanan dan permasalahan yang tidak bisa saya tolak datangnya.

S aya hanya ingin menjadi sebuah arang dalam pinsil. Sebuah gelas dari tanah liat. Seorang yang ingin menopang orang lain dengan kemampuannya yang apa adanya.

Banyak jalan menjadi dewasa.

Dan setiap orang memegang peranan dalam kedewasaan orang lain.

Termasuk kalian.

.. maka berhati-hatilah dalam bersikap, karena kalian bisa membentuk, bisa juga menghancurkan.

PS.

Terimakasih untuk semuanya ..

WhoHoo .. I've Been Simpsonized

S ebenarnya sudah tau soal ini sejak lamaaaaa banget. Dan penasaran untuk mencobanya. Tapi karena sok sibuk, sayapun lantas lupa. Nah, waktu kemarin lagi asik nonton suatu acara talk show luar negeri, ternyata dibahas lagi. Wah, tidak menyia-nyiakan waktu akhirnya nekat me-simpson-kan wajah. Merubah wajah kita menjadi karakter kartun dalam serial The Simpson.

N arsis?

S elama itu bisa bikin kita senyum, kenapa tidak? ;)

*di convert dari poto polos tanpa kerudung* :D

T api kok rasanya kurang mirip yah.. *masih sibuk utak atik karakter disini*. Hayoooo .. Siapa yang bisa bikin karakter paling mirip dengan aslinya?

Demam Pelangi

Menarilah dan terus tertawa

Walau dunia tak seindah surga

Bersyukurlah pada Yang kuasa

cinta kita di dunia selamanya ..

(Nidji, Laskar Pelangi)

S eperti yang lainnya, sayapun terjangkit demam pelangi. Mengggandrungi adegan demi adegan dalam film garapan para sineas muda berbakat. Mereka yang telah berhasil mengangkat suatu kisah nyata yang luar biasa, menjadi suguhan yang apik dan menggemaskan. Nikmat, mengenyangkan tanpa membuat ketagihan.

F ilm yang romantis untuk saya. Dimana saya bisa merasakan kehangatan persahabatan yang sederhana namun mendalam dan mengendap dalam setiap celah otak dan hati. Berhimpitan dengan perjuangan seuntai sahabat dalam mengais ilmu.

E ntah apa yang benar-benar dirasa oleh bang Ikal, jikalau saya boleh memanggilnya begitu. Setelah berhasil menuangkan cerita hidup dan kenangan yang telah lama menjadi bayang-bayangnya dalam tulisan dan film. Bukan suatu kebetulan sepertinya andai buku dan film karya bang Ikal laris manis di pasar Indonesia. Tulisan dalam bukunya yang sudah saya baca jauh sebelum film-nya akan dibuat, memang meninggalkan kesan mengharu biru, menyentuh sisi manusiawi. Yang saya ingat pertama saya mendengar bang Ikal ini berucap, adalah saya melihat sebuah pribadi yang apa-adanya. Saya terkesan dengan pemilihan kalimatnya yang singkat dan intonasi yang rendah. Selebihnya saya tidak akan berani menilai sosok bang Ikal seperti apa. Karena mendengarnya berkatapun hanya sekali itu. Buku dan film pun tak dinyana memiliki bagian-bagian pemanis penambah selera. Namun, sepenuhnya saya mendukung karya bang Ikal yang telah lahir dan mengharap beliau dapat selalu melakukan hal-hal hebat lainnya di masa yang akan datang. Aamiin.

. . .

Awan-awan kapas berwarna biru lembut turun. Mengapung rendah ingin menyentuh permukaan laut yang surut jauh, beratus-ratus hektare luasnya, hanya setinggi lutut, meninggalkan pohon-pohon kelapa yang membujur di sepanjang Pantai Tanjong Kelayang.

Aku tahu bahwa awan-awan kapas biru muda itu dapat menjadi penghibur bagi mataku, tapi dia tak kan pernah menjadi sahabat bagi jiwaku..karena sejak minggu lalu aku telah menjadi sekuntum daffodil yang gelisah, sejak kukenal sebuah kosa kata baru dalam hidupku : rindu

(Hirata, Andrea. Miang Sui-Laskar Pelangi)

. . .

“Tahukah kalian …,” katanya sambil memandang jauh. “Pelangi sebenarnya adalah sebuah lorong waktu”

Kami terdiam, suasana jadi bisu, terlena khayalan mahar

(Hirata, Andrea. Laskar Pelangi dan Orang-orang Sawang-Laskar Pelangi)

. . .

Ibunda guru,

Ayahku telah meninggal, besok aku akan ke sekolah.

Salamku, Lintang.

Bagai meteor pijar ia berkelana sendirian ke planet-planet pengetahuan, lalu kelipnya meredup dalam hitungan mundur dan hari ini ia padam, tepat empat bulan sebelum ia menyelesaikan SMP…

Hari ini, seekor tikus kecil mati di lumbung padi yang melimpah ruah.

(Hirata, Andrea. Elvis Has Left the Building-Laskar Pelangi)

. . .

Saat itu aku menyadari bahwa kami sesungguhnya adalah kumpulan persaudaraan cahaya dan api. Kami berjanji setia dibawah halilintar yang menyambar-nyambar dan angin topan yang menerbangkan gunung-gunung. Janji kami tertulis pada tujuh tingkatan langit, disaksikan naga-naga siluman yang menguasai Laut Cina Selatan. Kami adalah lapisan-lapisan pelangi terindah yang pernah diciptakan Tuhan.

(Hirata, Andrea. Elvis Has Left the Building-Laskar Pelangi)

. . .

Kami adalah sepuluh umpan nasib dan kami seumpama kerang-kerang halus yang melekat satu sama lain dihantam deburan ombak ilmu.

(Hirata, Andrea. Laskar Pelangi)

Foto behind the scene lainnya.