Jalan Rejeki

Akhirnya bisa mantengin video amatir Keong Racun ala SinJo yang katanya fenomenal itu, sampe selesai. Sebelumnya cuma lihat sekilas saja dari tayangan yang wira wiri di acara-acara televisi. Kenapa menonton sampe selesai? Ya sepertinya saya ikut-ikutan penasaran dengan isi lengkap video itu. Dan tidak, saya tidak ingin membahas penuh soal video itu disini.

Pagi ini seperti biasa, saya dan suami selalu ngobrol sambil melakukan aktivitas-pagi kami. Salah satunya, ngobrol soal SinJo ini. Membahas soal pemberitaan media yang menurut saya sepertinya terlalu nyeleneh, mengada-ada dan tulalit. Singkatnya membesar-besarkan sesuatu yang sebenarnya biasa saja. Lalu suami dengan entengnya menyahut di sela-sela mandinya,

“Menurutku, sebenernya mereka ndak salah kok, mereka kan juga bilang kalo mereka membuat video itu hanya untuk iseng. Andai mereka mendapatkan tawaran pekerjaan ini itu dari video itu, ya berarti memang lewat situ jalan rejeki mereka”

Eh iya ya, ternyata memang jalan rejeki itu tidak melulu melalui proses yang “baku”. Saya sendiri berkali-kali mengalami hal itu. Walau kita selalu diajarkan untuk selalu berusaha keras untuk mendapatkan sesuatu, nyatanya saya pernah juga, begitu saja mendapatkan hal-hal yang saya inginkan, seperti jatuh dari langit. Namun begitu juga sebaliknya, kehilangan sesuatu atau tidak bisa mendapatkan sesuatu yang diinginkanpun, tidak selalu dikarenakan kurangnya usaha.

Tiba-tiba berharap, saya adalah cucu yang hilang dari seorang pengusaha kaya-raya **ngimpi**

Tanpa Judul

Kenapa kalian begitu mudahnya terancam hal-hal yang bahkan belum terjadi.

Membungkus diri dengan kotak andai-andai dan membiarkan perasaan menjadi penentu langkah kaki.

Sekedar mengingatkan .. Bahwa bumi akan tetap berputar, waktu terus berjalan dan orang-orang yang berdiri diatasnya akan tetap bergantian, berlomba mengisi kesempatan yang terserak di-tiap sudut kehidupan, tepat disaat yang sama kalian memutuskan untuk diam dan menarik diri demi rasa nyaman .. memuaskan kekhawatiran tanpa sadar bahwa sebenarnya telah tertinggal.

.. saya berbagi hanya karena peduli.

(6/5/2010.22:08)

Bertengkarlah Dengan Baik dan Benar

Bertengkar dengan pasangan itu adalah default. Wajar. Tetapi menjadi amat sangat tidak keren, bila anda atau pasangan melakukannya di area publik.

Contohnya seperti yang saya alami sekarang. Sepasang kekasih (atau entah suami istri), yang duduk selang satu user disamping saya, tiba tiba mengeluarkan suara-suara berinotasi tinggi dan gebrak gebrakan di kubik setengah terbuka. Tentunya bukan hanya saya, tetapi seluruh pengguna warnet yang saat itu sedang khusuk-khusuknya “beribadah”, kontan mengalihkan pandangan ke arah mereka, dengan tidak lupa memasang wajah heran, dan terganggu. Sejenak mereka diam. Kamipun kembali ke aktivitas sebelumnya. Namun dalam hitungan detik, intonasi tinggi itu kembali terdengar, kali ini diikuti dengan goyangan di kubik.

Saya tidak tau apa yang mereka ributkan. Dan tidak mau tau. Yang saya sayangkan adalah, bagaimana mereka mengekspresikan rasa amarah mereka dalam suatu tindakan yang bisa saya bilang menganggu “urusan” orang lain, mengingat mereka melakukannya di area publik. Bukan sekali ini saja saya mendapati hal seperti diatas. Dulu sekali, bahkan saya punya teman, pasangan kekasih, yang bila bertengkar bukan hanya menggunakan kekuatan suara, tapi juga otot. Lemparan botol, gelas atau saling memukul adalah hal yang lumrah kami dan kawan lain dapati saat mereka sedang dipuncak amarah. Bahkan saya pernah mendapati salah satu dari mereka menabrakkan diri beserta motor yang dia bawa saat itu ke suatu tiang listrik. Bodoh.

Iya, bodoh. Cuma kata itu yang terlintas di pikiran saya. Saat mendapati adegan adegan pertengkaran antar kekasih di area publik, di jalan raya, kantor, tempat wisata, mall, komunitas online, dimanapun.

Bodoh karena apapun yang kalian umbar disana adalah tidak lain dan tidak bukan adalah ego untuk saling memenangkan apa yang kalian masing-masing anggap benar. Terlihat oleh orang lain, adalah kesempatan untuk mencari simpati. Bukan untuk mencari apa yang benar-benar kalian butuhkan untuk menyelesaikan akar dari pertengkaran. Buang-buang waktu.

Bodoh karena secara tidak langsung, kalian memberi label buruk pada pasangan masing-masing untuk kemudian nantinya diberi penilaian oleh publik. Dengan mudahnya.

B
odoh karena telah membuang energi dan merugikan diri sendiri, untuk sesuatu yang mungkin tidak kalian butuhkan di masa datang. Atau berakhir dengan penyesalan yang berkepanjangan.

.. Berilah kesempatan bagi anda dan pasangan untuk saling memikirkan apa yang sebenarnya terjadi. Untuk menyadari apa yang telah diperbuat sehingga membuat pasangan merasa tidak nyaman.

Menjauhlah dari area publik. Sehingga anda dan pasangan mempunyai ruang pribadi yang cukup untuk menggunakan akal sehat. Bukan memutuskan sesuatu dengan terburu-buru, atau mengandalkan ego dan gengsi.

Dan apapun kesalahan pasangan anda, mereka punya hak untuk didengarkan. Jangan khawatir, setelah itu, anda akan memiliki kekuasaan penuh untuk memutuskan.

Salam damai ..

Rindu

Pada kelam kutambat angan dan gairah tentang peluh dan daging bernyawa. Membiarkan nya terus berguncang dihempas riak bola-bola air yang saling bergesekan kemudian pecah. Berulang.

Tubuh sebentuk asap. Dingin, mengambang dan samar. Menyeka tiap pori-pori kulit. Menyusup tiap lubang disudut sudut raga. Perih.

Kutukar airmata demi sekelebat kehangatan jemari kekar. Pula kurajang harga diri ini untuk sebuah sudut sempit diujung lapang pandang terjauhmu.

Kamu mematung. Bakaran dupa memeluk erat, dengan kakimu terikat kuat pada akar-mengakar yang berurat. Bahkan sebelum kehidupanmu sebelumnya usai.

Pun, aku tertidur malam ini, dengan isi kepala tergantung dalam sangkar berjeruji rapat. Berdesakan dengan amarah, nyeri dah rindu.

bali sunset

Hening


Suatu siang di sebuah ruangan lapang yang senyap dan dingin. Suara denyut alat monitoring membelah hening, kelap kelip indikator berdetak bersama detik jam dinding. Tubuh tubuh setengah nyawa tergeletak tak berdaya.

Malaikat penjemput ruh menanti dengan sabar, sampai hitungan mundur umur berakhir.

Gadis manis, 15 tahun, usai kecelakaan motor bersama teman, saat akan merayakan hari ulang tahun nya, setelah sempat sadar untuk beberapa jam, kemudian tidak lagi bangun sampai seluruh kemampuan pertahanan hidupnya perlahan berhenti bekerja. Ibu yang berulang kali tidak sadar diri ketika dijelaskan, bahwa anak yang pernah dan selalu dia pertaruhkan hidup dan nyawa untuknya itu tidak lagi hidup melainkan atas bantuan alat bantu pernapasan dan obat pemacu jantung. Ayah yang meleleh seluruh keperkasaannya, ketika terpaksa harus melepaskan sendiri semua alat bantu hidup yang melekat ditubuh mungil yang dulu pernah dia sambut lahirnya dengan sukacita dan asma kebesaran Allah, kini asma kebesaran Allah beriringan dengan duka dan kecewa mendalam, saat henti denyut dan napas sang anak terkasih berada di ujung jari-jarinya.

Duda 27 tahun, dengan kondisi yang tidak jauh beda, harus meninggalkan seorang anak perempuan yang belum genap 3 tahun tanpa Ibu. Seorang kakak tidak habis airmata, menggenggam erat tangan yang selama ini dia bimbing, menciumi kaki yang selama diharapkan segala kebaikan untuknya. Mengusap seluruh tubuh yang lemas tanpa reaksi, meratap sambil berharap sang adik terbangun sebelum semua alat bantu hidup dimatikan, sebelum obat pemacu jantung berhenti bekerja.

Suami terbaik dan Ayah tercinta untuk sebuah keluarga besar yang rukun ..

Ibu terhebat sekaligus Istri terkasih ..

Satu satu pergi kembali kepada penciptanya.

..

Setiap orang selalu bermimpi kebaikan, kerap berusaha meraih kebahagiaan. Lupa bahwa kematian adalah yang nyata.

Entah kapan. Entah dimana. Entah bagaimana.

Orang-orang terkasih di sekeliling yang kita pikir tidak lebih penting dari diri kita sendiri, yang kita pikir akan selalu ada kapan saja kita butuh, nyatanya sewaktu-waktu dapat pergi, pun kita sendiri.

Kepada mereka yang meninggalkan kita, segala permohonan maaf yang belum sempat diutarakan. Rasa sesal, amarah dan atau kecewa yang masih dipendam. Tanda cinta dan sayang yang tidak sempat dilakukan. Rahasia gelap yang tidak tuntas dibersihkan. Hanya akan menjadi sampah sisa, tidak berguna. Bergelayut sepanjang umur, di belakang kepala dan di dada.

Hanya butuh beberapa detik dari puluhan ribu detik yang milikmu setiap harinya, sempatkanlah. Demi meringankan segala kesulitan. Di dunia, dan akhirat.

Fade To Black

Life it seems, will fade away
Drifting further every day
Getting lost within myself
Nothing matters no one else
I have lost the will to live
Simply nothing more to give
There is nothing more for me
Need the end to set me free

T
hings are not what they used to be
Missing one inside of me
Deathly lost, this cant be real
Cannot stand this hell I feel
Emptiness is filling me
To the point of agony
Growing darkness taking dawn
I was me, but now hes gone

No one but me can save myself, but its too late
Now I cant think, think why I should even try

Yesterday seems as though it never existed
Death greets me warm, now I will just say good-bye

(Fade To Black – Metallica)

.. ketika aku bilang selalu, itu berarti selamanya.

Aku

Dalam detik berdetak
Dalam kelam tenggelam

Menyusur busur hingga ke ujung
Melintas batas tanpa terhenti

Tak bergeming jasad diterpa renta
Menggapai asa ditengah hampa

Terang yang memanggang
Gelap membungkus kedap

Aku, tak akan berhenti menangkap air .. tak akan menyerah mengejar angin

Memenangkan apa yang sudah dituliskan tinta nasib
Menantang hidup dengan segala episode tangis dan tawa nya
.. dengan segala noda dan kesucian nya

Kering

Ketika sebuah keinginan sederhana tidak harus terpenuhi.

Ketika seonggok perasaan mulai membatu dan berdebu.

Mereka, dua bibit yang memutuskan bersatu, tumbuh bersama untuk menjadi satu pohon. Pohon yang sejalan dengan matahari terbit dan terbenam makin tumbuh menjulang. Bercabang cabang. Melahirkan pucuk-pucuk muda diujung rantingnya. Pucuk muda bergelar harapan.

Pada pucuk-pucuk muda itu mengalir segala kebaikan dan keinginan. Seumpama mimpi yang tertanam dalam-dalam. Mengakar dan mengikat kuat.

Kini..

Pohon bercabang itu makin renta. Rapuh dan limbung dimakan usia. Seakan hendak tumbang terbagi dua.

Pucuk-pucuk nya terlihat pucat. Kering berkerut-kerut.

Menanti jatuh ketanah. Menanti hancur.

889359

.. Ayah, Bunda. Maaf, pucuk itu belum mampu membahagiakan kalian.

20/08/2009

S ayang ..

Aku marah !

Aku meradang .. dan aku tiba tiba menyesal duduk disamping dirimu yang terlelap dengan tenang pagi ini.

S ayang .. aku kecewa

Aku benci .. dan selanjutnya merasa tidak berguna ada untukmu hampir 3 tahun terakhir ini.

T api kemudian aku meluruh, berbagi amarah dengan udara yang makin sesak. Berbagi sebulir airmata dengan sebongkah keyakinan yang tersisa.

K eyakinan bahwa pendirianmu masih sejalan dengan mimpi kita.

K eyakinan bahwa ketika kita masih diberi waktu untuk menghabiskan waktu bersama, adalah sesuatu yang bukan sia-sia.

W alau bersama bukan untuk selamanya, suatu saat nanti pasti akan berakhir. Aku ingin bersamamu sampai detik itu tiba.

1

Mr. Smiley

B elakangan ini banyak orang besar yang satu satu meninggalkan kita. Orang-orang besar yang meninggalkan banyak karya hebat yang meninggalkan kesan bukan hanya di otak tetapi juga di hati.

J adi teringat pada satu sosok yang saya pikir selalu tersenyum. Walau mungkin sebenarnya beliau tidak bermaksud seperti itu, entah kenapa saya tidak pernah melihat sirat marah, dengki atau hal-hal negatif lainnya dari wajah bapak beranak 4, yang 2 diantaranya kembar ini. Sebagai seniman, pemilik nama asli Chrismansyah Rahardi ini memiliki prestasi di bidang musik yang bisa dibilang melegenda di negeri ini. Karya-karyanya selalu mendapat antusiasme yang tinggi khususnya dari para penggemar, ataupun dari masyarakat luas. Berpuluh-puluh lagu menarik perhatian dan berbekas lama di ingatan.

P enyanyi yang tanggal 16 September 2009 nanti ini kiranya genap berusia 60 tahun, di awal karirnya beberapa kali berganti band, antara lain band Sabda Nada (1968), yang kemudian berubah menjadi band Gypsy (1969), disusul dengan bergabung dalam band The Pro?s (1972), setelah itu beliau memilih berkarir solo. Sampai pada tahun 1977 beliau berhasil memenangkan Lomba Karya Cipta Lagu Remaja Prambors, dan sekaligus mempopulerkan lagu Lilin Lilin Kecil. Sejak itu beliau menelurkan deretan lagu yang berulang kali menjadi hits. Semisal lagu Badai Pasti Berlalu, Sabda Alam, Aku Cinta Dia

S aya masih ingat dengan jelas, bagaimana 22 tahun lalu saya berlatih menari modern untuk perpisahan TK menggunakan salah satu lagu beliau dan dengan sukses mendapatkan pujian dari para guru dan orangtua teman-teman .. Hip Hip Hura Hura. Lagu yang ceria, walau dengan musikal yang sederhana.

D imalam minggu
Kupergi ke pesta
Pesta meriah
Ulang tahun kawanku
Semua yang datang
Bergaya ceria
Berdansa dan gembira

D itengah pesta kulihat si dia, lincah gayanya
Dandan masa kini
Ingin hatiku mencium pipinya
Tapi malu rasanya

Reff;
O h hip hip hura hura…
Aku suka dia…
Aku jatuh cinta…
Sungguh suka dia …
Sungguh cinta dia…
Hip hip hura hura

U ntuk semua eksplorasi bakat dan dedikasi kalian. S alut !