Dua hari yang lalu, saat saya sedang mampir di sebuah salon kecil di pelosok sebuah desa, puluhan anak kecil seusia TK – SMP bersama orangtuanya masing-masing datang bergantian ke salon tersebut. Rupanya datang untuk menyewa pakaian nasional seperti kebaya atau beskap untuk acara Hari Kartini di sekolahnya masing-masing. Awalnya saya tidak begitu tertarik dengan kejadian itu, sampai pada suatu waktu sang pemilik salon membuka cerita.

“Dalam satu tahun mbak, salon itu punya 2 kali panen; pertama saat Lebaran dan kedua ya saat Kartinian begini..”
Mau tidak mau, sayapun menimpali obrolan sang ibu salon tersebut “Wah panen bu? berarti banyak yang bisa didapat ya?” tanya saya kepo.
“Yaa lumayan lah mbak, kalau satu sewa satu pasang kebaya – kain – selop saja, saya pasang harga Rp. 50.000,- kalau pake dandan disini saya bisa dapet Rp. 75.000,- dari tiap anak”
Otak emak-emak saya pun berputar cepat, dalam waktu 2 jam selama saya di salon itu saja, sudah sekitar 10-15 anak yang datang. berarti ibu salon minimal sudah mengantongi Rp. 500.000,- – Rp. 1.125.000,- dalam 2 jam itu. Wah, banyak! Padahal saya sebagai mantan preman pasar Tanah Abang tau sekali hitung-hitungan modal untuk membeli kebaya-kebaya model “asal jadi” itu berapa.

Sebenarnya ya saya hepi-hepi saja melihat sang ibu salon mesem-mesem karena tau akan dapat uang banyak, tapi satu sisi hati saya miris. Melihat anak-anak tersebut jadi bahan “permainan” orang orang tua di sekelilingnya berdalih Hari Kartini. Dari beberapa anak yang sempat saya tanyai, kebanyakan acara yang akan mereka lalui adalah tidak lebih dari prosesi simbolis. Modelling, pawai, upacara yang menggunakan kebaya atau pakaian nasional. Sebenarnya tidak ada yang salah dengan acara tersebut di atas, walaupun saya tidak pernah suka dengan yang namanya hal bertele-tele itu. Namun bila melakukan perayaan atas satu hal namun justru menghilangkan esensi dari hal tersebut, apakah itu bukan suatu kesia-siaan?

Contoh lainnya, menggelar perayaan wisuda untuk kelulusan SD, SMP atau bahkan SMA. Mengistimewakan sesuatu yang seharusnya menjadi hal yang biasa saja. Menjadikan generasi mereka menjadi orang-orang yang merasa cepat puas, haus akan perayaan dan penghargaan, tumpul.

… lalu tanpa terasa langit sore sudah menggantung di pelupuk mata. Ah sudahlah, mungkin memang harus seperti ini kita berproses. Tidak harus melulu menjadi lebih baik, justru kemunduranlah yang “mungkin” bisa menjadi motivasi menuju ke perubahan yang pesat.

Semoga.