Late November

pernikahan itu melelahkan, kawan.

baik² lah memilih pasangan .. karena tanpa bisa saling menguatkan, kalian akan pincang sebelah, lalu tersungkur.

.. Half Shut Afterwards

Keep your eyes wide open before marriage, half shut afterwards.

– Benjamin Franklin –

Dulu saya pikir, mencari pasangan hidup dengan melihat bibit-bebet-bobot itu adalah sesuatu yang berlebihan. Melihat siapa orang tua sang calon pasangan, suku, status sosial, latar belakang keluarga, pendidikan, pekerjaan, bahkan kadang “menimbang” harta yang dimiliki. Saya merasanya kok ya menikah tidak tulus, semacam mencari keuntungan. Tapi ketika mengalami sendiri pernikahan, ternyata prinsip mencari pasangan dengan bibit-bebet-bobot sesuai kriteria masing-masing keluarga itu penting sekali. Banyak hal-hal yang “tidak terduga” terjadi, dan hal-hal di atas itu bisa jadi menjadi penyelamat di dalam kekisruhan. Tsah kalimat saya, tapi memang benar lho, kisruh itu pasti ada di setiap rumah tangga. Hanya saja ada beberapa pasangan yang pintar menyembunyikan itu.

Ketika menemukan quote yang saya tulis di atas tadi, saya jadi banyak berpikir tentang bagaimana menjalani kehidupan rumah tangga. Ketidakcocokan, keinginan yang terbengkalai, kemarahan yang membuncah, dan apapun hal-hal yang tidak menyenangkan dalam rumah tangga harus dicari trik khusus untuk menghadapinya. Tidak lagi seperti masa pacaran, yang bisa saja dengan mudah memutuskan untuk berpisah, atau melakukan kompensasi lain dengan tujuan membalas, menyakiti atau membuat pasangan merasa bersalah.

” … half shut afterwards.”
Menutup “setengah mata”
Menerima.
Kompromi.

Itu yang sekilas lewat di pikiran saya. Menerima apa yang sudah saya pilih, dan berharap pasangan mau terus berkompromi untuk membuat segalanya berhasil untuk kami.