Sometimes …

image

Well said.

Dan Jemuran Yang Menumpuk Itu …

Pekerjaan rumahtangga memang tidak akan ada habisnya. Selesai saya menyelesaikan yang satu, yang lain sudah menunggu untuk diselesaikan. Katakanlah menyapu, mengepel, mencuci piring dan baju, mengganti sprei yang kotor, membereskan mainan Adam (hal ini sengaja saya lakukan sesering mungkin, agar Adam terbiasa dengan lingkungan yang rapih, semoga alam bawah sadarnya sudah bisa merekam dengan baik sehingga tanpa diminta dia akan berusaha membuat lingkungannya lebih rapih), membersihkan kulkas dan dapur, mencuci kamar mandi, dan seterusnya dan seterusnya.. Biasanya saya selalu melakukan semua pekerjaan itu dengan semangat. Tanpa ada beban. Tapi ada satu pekerjaan yang paling saya tidak sukai. Menyetrika!

Saya termasuk pribadi yang maunya menyelesaikan segala sesuatu dengan baik. Termasuk menyetrika ini, makanya waktu saya jadi banyak terbuang terpakai jika saatnya menyetrika. Setiap sudut baju atau celana saya setrika dengan hati-hati sehingga licin dan rapih. Tantangan selanjutnya adalah berusaha melipat pakaian yang andai nanti ingin digunakan tidak meninggalkan garis lipatan yang mengganggu “pemandangan”. Saya juga harus punya waktu khusus dimana tidak diganggu oleh pekerjaan lain (saya tidak suka memburu-buru diri) atau diganggu Adam. Belum lagi saya harus menyediakan kipas angin dan televisi supaya saya tidak kepanasan dan bosan. Hahaha lebay kan? πŸ˜€

Menyewa ART? Saya sudah pernah coba, dan kebetulan belum cocok. Latar belakang kehidupan memang membuat perbedaan besar dalam keseharian masing-masing orang. Dan ART saya ini termasuk orang yang “sembarangan” dalam mengurus rumah. Alhasil, bukannya memiliki waktu yang lebih banyak untuk mengerjakan hal lain, saya dan suami malah harus mengulang kembali pekerjaan rumah yang sudah dia kerjakan. Entah tidak bersih menyapu dan mengepel, alat-alat rumah tangga yang tidak bersih dicuci, baju-baju yang masih terdapat noda atau baju yang rusak karena salah menyetrika. Beruntunglah saya, di sekitar rumah kami kini ada jasa menyetrika yang murah-meriah. Sekitar Rp.1500,-/kg saja! Murah kan? Dalam waktu sebulan, kami menghabiskan uang tidak lebih dari Rp.50.000,- untuk biaya menyetrika dan mencuci beberapa baju yang tidak sempat tercuci atau bahan yang sulit dicuci seperti sprei, jaket atau celana jeans. Jauh lebih ekonomis dibanding saya harus membayar gaji ART yang besarnya 7 kali lipat biaya tadi. Dan yang lebih penting, saya tidak harus menghabiskan tenaga lebih untuk manyun dan ngotot menyetrika atau mengajarkan ART yang tidak peka. Seperti siang ini, saya sudah siap membawa seplastik besar jemuran kering untuk disetrika. Terimakasih yaa mbak-mbak penyetrika πŸ˜‰

Menjemput Jodoh

5255_121101762457_4648932_n

Kamis, Februari 2012
Senja menyirami sebuah stasiun kereta tua di bagian timur Jakarta dengan temaramnya. Saya dan 3 orang sahabat lain, bergegas mengantri untuk membeli tiket kelas bisnis tujuan kota Yogyakarta. Rencananya, besok dan lusa kami akan berkumpul bersama sahabat-sahabat kami dari kota yg lain disana. Setelah tiket di tangan, kami memutuskan untuk mengisi perut dengan makanan seadanya dan membeli sedikit perbekalan untuk selama di perjalanan. Saat menunggu kereta datang, hp saya berbunyi. Panggilan dari sebuah nama yang sudah mengisi keseharian saya sejak 3 tahun silam. Dia menanyakan keputusan saya yang memilih untuk tetap pergi keluar kota, melanggar larangan yang selalu saya patuhi sebelumnya. Saat itu juga, tanpa banyak percakapan, cerita cinta kami dia sudahi.

Sejenak saya termangu di sebuah sudut stasiun. Berusaha menelan bulat-bulat semua mimpi yang pernah saya gantungkan kepadanya. Tidak ada airmata. Tidak ada pertengkaran. Tidak seperti biasanya.

Tidak lama kemudian keretapun datang, saya langsung menghampiri 3 sahabat saya lalu bersama-sama menuju gerbong yang dituju.

Melempar semua gundah dari balik jendela kereta, lalu menghempaskan diri di atas sofa keras berwarna hijau lumut. Saya bebas.

Jum’at, 9 Februari 2007
Pagi yang lengang di Yogyakarta, beberapa teman datang untuk menjemput kami menuju tempat persinggahan. Setelah sarapan dan mandi, kami menghabiskan waktu dengan bermalasan-malasan. Melepas lelah dan mengakrabkan diri dengan beberapa teman yang baru bertemu muka hari ini. Beberapa teman lainnya sedang kami tunggu kedatangannya. Sekitar 30 orang yang rencananya akan berkumpul malam ini dan besok pagi.

Malamnya kami memutuskan untuk menghabiskan sisa hari di sebuah angkringan sekitar Kota Gede. Beralas tikar kami berkumpul saling berbagi cerita dan angan-angan. Satu-satu teman kami datang dan bergabung dalam kumpulan. Termasuk dia. Dia yang sebelumnya belum pernah saya kenal secara pribadi. Hanya obrolan singkat dan janji bertemu malam ini, lewat susunan kata di sebuah kotak 2-dimensi yang terhubung dengan “dunia”

Hampir saja kami tidak bertemu, andai Dia tidak menghubungi saya duluan. Karena saya lupa menghubungi dia kembali jika dan teman-teman lain sudah menentukan tempat bertemu.

Kami bertemu pandang, dan saling melempar senyum. Saya langsung suka. Tidak beberapa lama kemudian, tawa kami melebur bersama riuhnya canda bersama teman-teman.

Ditengah riuh canda, tiba-tiba ada sebuah panggilan telepone masuk dari seseorang yang sangat akrab dengan saya di masa lalu. Sepupu dari seorang pria yang pernah sangat dekat dengan saya. Mengabarkan bahwa pria itu baru saja mengalami kecelakaan lalu-lintas, dengan kondisi sangat parah dan sedang berada di ICU. Sang sepupu meminta saya ikut berdoa untuk keselamatannya. Saya berusaha membuat tegar suara di ujung sana sambil berjalan mencari tempat yang lebih tenang untuk berbicara. Tanpa sadar saya sedang sibuk menghapus butiran-butiran air yang mengalir di sudut mata.

Saat kembali ke tempat, wajah saya menjadi pucat, teman-teman yang menyangka saya bermasalah dengan kejadian di stasiun sebelum berangkat ke Yogyakarta di malam sebelumnyapun sibuk menggoda saya. Dia ikut melempar canda dengan menawarkan dirinya untuk jadi kekasih baru saya. Sesaat kumpulan teman-teman menjadi sunyi lalu riuh, saya hanya tersenyum dan berusaha menikmati sisa canda malam itu.

Setelah acara berkumpul di angkringan malam itu, kami terpecah menjadi beberapa kelompok. Dengan rencana masing-masing kami memutuskan berpisah dan bertemu kembali besok pagi. Saya dan beberapa teman lain memutuskan untuk melanjutkan menjelajah kota itu, sampai lepas dini hari. Sepanjang malam itupun, Dia terus menyampaikan maksudnya untuk bisa menjadi teman dekat saya.

Sabtu, 10 Februari 2007
Sesuai rencana kami berkumpul kembali menjalani acara yang sudah disusun berbulan-bulan lamanya. Mengunjungi sebuah panti asuhan, dan bermalam di sebuah villa di daerah Kaliurang.

Minggu, 11 Pebruari 2007
Setelah acara berakhir, saya menghabiskan waktu bersama Dia sebelum saya harus kembali ke Jakarta nanti malam. Tidak butuh waktu lama untuk saya membuat keputusan untuk membuat komitmen dengannya, setelah masing-masing kami bercerita singkat tentang pribadi masing-masing. Inilah salah satu cara saya untuk mendewasakan diri, untuk tidak berlama-lama melarutkan diri bersama masa lalu.

———

Tanpa sadar, pertemuan singkat itu adalah kesempatan saya untuk menjemput jodoh. Setelah 3 tahun berhubungan jarak jauh dan selama itu mengalami berbagai kondisi, bukan hanya hal-hal yang menyenangkan tapi juga menyakitkan dan penuh kecewa, nyatanya membuat kami semakin mengerti dan menerima pribadi masing-masing. Bahkan di suatu waktu, saat Dia pernah berniat untuk menikah dengan wanita lain, saya menerima keputusan dia itu sebagai sebuah episode lain dari perjalanan kami. Kami tetap berteman baik tanpa ada hal yang mengganjal. Setelah melanjutkan hidup masing-masing dengan hati yang lapang, dia dengan rencana pernikahannya dan saya dengan usaha menyelesaikan program profesi saya, ternyata tangan Tuhan bekerja jauh melebihi apa yang manusia bisa lakukan. Kami punya kesempatan untuk memulai semuanya dari awal lagi. Sebuah hubungan yang lebih dewasa.

Kini kami sedang menikmati level yang sangat berbeda dari sebelumnya. Menikah, hidup bersama dan memiliki seorang anak yang sanggat membanggakan.

Memberi diri sendiri sebuah kesempatan baru, berpikir positif dan berani menghadapi risiko yang paling buruk ternyata berbuah manis andai di saat yang bersamaan kita bisa menyeimbangkan apa yang ada di hati dan pikiran.

Semoga jiwa-jiwa yang masih sendirian di luar sana, tetap tegar dan yakin bahwa cepat atau lambat akan menemukan jalan untuk menjemput jodohnya!

***

*Tulisan ini terinspirasi dari kesempatan kami untuk bisa tampil di acara KickAndy! baru saja ini, untuk menjadi nara sumber untuk bercerita ulang tentang bagaimana kami bisa bertemu. Ada satu hal yang bang Andy F Noya tanyakan sepanjang taping, dan belum sempat saya jawab:

Kenapa sih, kok mau-maunya Tunjung kembali lagi dengan Wishnu, setelah diputus berkali-kali dan hampir ditinggal menikah?”

Pertanyaan itu baru bisa jawab setelah saya dan suami kembali dari Jakarta seusai taping acara KickAndy! ke rumah dan berkumpul bersama Adam. Jawabannya, Bang :

Karena Wishnu bisa membuat saya bahagia. Dan sesuatu yang bisa membuat bahagia, layak untuk dipertahankan … πŸ˜‰

A Room Of My Very Own!

Mulai 2 bulan yang lalu, saya memulai aktivitas baru di kantor yang baru. Masih bidang medis, tapi dengan suasana dan pengalaman yang beda dari sebelum-sebelumnya. Biasanya saya bekerja di sebuah Rumah Sakit atau klinik yang selalu penuh dengan orang-orang sakit dan karyawan yang bekerja dengan tergesa. Belum lagi dengan jam kerja yang panjang dan shift malam yang rasanya lebih melelahkan daripada bekerja siang hari. Kini saya bisa bekerja dengan lebih tenang, di sebuah klinik kecantikan. Tapi yang menyenangkan adalah mendapatkan apa yang selama ini saya idam-idamkan. Sebelumnya saya ingiiiiiin sekali punya kubikal di kantor seperti teman-teman lain. Mempunyai “daerah” pribadi untuk menyimpan semua barang-barang saya dan bisa didesain sesuka hati untuk menambah semangat dalam bekerja. Selama ini tidak bisa saya dapatkan, karena selalu harus berbagi ruangan dengan dokter-dokter lain yang sama-sama bertugas di Rumah Sakit tersebut. Tapi Tuhan memang maha baik! Bukan hanya kubikal yang bisa saya dapat, melainkan sebuah kamar praktek pribadi! YAAAAAAY!! πŸ˜‰