Ketika Menjadi Seorang Ibu, Menjadi Terlalu Melelahkan

Sebulan terakhir ini, ketika Adam sudah mulai “lancar” melakukan gerakan-gerakan motorik-halusnya, ada satu hal yang membuat saya termangu. Ada suatu saat, ketika Adam tidak mendapatkan apa yang diinginkannya, entah itu barang yang dia minta, atau tidak dibolehkan bermain di suatu tempat (dia senang sekali sembunyi di balik gorden yg berdebu, atau lantai dapur yang kotor, atau tangga berundak dengan pinggiran anak tangganya yang tajam) dia akan menggeram gemas, seperti menahan amarah. Kedua tangannya dikepalkan erat, matanya terpejam kuat, sampai-sampai tubuhnya bergetar. Saya jadi teringat diri sendiri. Sampai 3 bulan yang lalu, sebelum Mama ikut tinggal bersama kami untuk membantu mengurus Adam, sejak lahir sayalah yang mengurus Adam sendirian. Tentunya dibantu oleh suami, tapi sama sekali tanpa pembantu. Tidak jarang saya kelelahan di sela-sela aktivitas saya menjaga Adam. Ada kalanya Adam melakukan hal-hal yang membuat emosi saya naik. Dan saya melakukan gerakan menggeram itu, terkadang diselingi memukul tembok. Saya tidak punya niat buruk, hanya berusaha meredam emosi saya saat itu. Tapi tidak menyangka, bahwa hal itupun ternyata “diserap” oleh Adam. Fyuh .. menyesal rasanya.

Setelah 3 bulan saya mencoba memulai aktivitas baru, yaitu bekerja, sehari-hari Adam lebih banyak diasuh oleh Oma-nya. Saya menjadi lebih “longgar” dalam mengurusnya. Dalam 24 jam sehari, otomatis waktu untuk bertemu Adam, turun drastis menjadi hanya 8 jam saja, dikurangi waktu tidurnya. Sayapun lebih banyak tenang menghadapi polah Adam, mungkin rasa kangen saya yang seharian bahkan semalaman meninggalkan dia. Hampir tidak pernah saya marah-marah lagi. Tapi setelah berhenti bekerja, dua bulan terakhir ini, saya merasa emosi saya mudah terpancing. Hal-hal kecil layaknya seperti pematik api, langsung membakar. Siang ini suami mencium gelagat saya. Setelah mengeluarkan suara dengan intonasi tinggi, saya tinggalkan Adam yang sedang sibuk mengacak-acak makanan yang dimuntahkannya, sambil membanting piring makan Adam ke meja dan bergegas masuk kamar mandi. Saya menangis. Saya seperti tidak berdaya, seperti orang kebingungan. Saya hanya tau saya kesal.

Malam tadi, saat berpamitan berangkat tugas ke luar kota suami berkata; “yang sabar ya mengurus Adam .. namanya dia anak belum berakal”. Saya hanya bisa membalas lirih; “iya.. aku tau”

Mungkin saya hanya butuh waktu sebentar untuk sendirian. Entahlah ..

Cumi Lombok Hijau

Mau posting resep makanan lagi aja deh, gpp dong yaa .. Daripada posting yang bikin mumet-mumet hihihi.

Awalnya karena saya sukaaaa sekali dengan cumi. Mau dimasak apapun, pasti habis kalo sudah di depan mata. Jadi waktu awal-awal tinggal bareng suami, di tempat yang ada dapurnya, selain eksperimen ayam goreng (yang mana adalah makanan favorite suami) cumi adalah menu eksperimen prioritas kedua. Setelah mencoba berbagai macam olahan cumi yang dicontek dari resep sana-sini, ternyata yang paling bikin penasaran adalah Cumi Lombok Hijau. Tapi setelah sering kali mencoba cara memasak cumi, entah itu digoreng 1/2 matang, digoreng tepung atau direbus terlebih dahulu, hasilnya tetap sama; cuminya selalu masih terasa keras saat mau dimakan *doh*

Pencerahanpun datang tadi pagi, saat belanja di ibu penjual ikan laut yang seminggu sekali keliling komplek perumahan. Saya nekat bertanya; “bu, saya kalo masak cumi .. kok selalu keras ya? perlu diolah apa, atau dikasih apa gitu bu, biar lunak?” Sang ibu penjual ikanpun menjawab; “neng, masak cumi itu ndak usah lama-lama, cukup sebentar saja, 1-3menit. supaya ndak keras, semakin lama dimasak nanti akan semakin keras.” Dalam hati langsung manggut-manggut sendiri, ternyata begitu tho rahasia memasak cumi.

Siangnyapun langsung saya praktekkan. Cumi yg biasanya saya masak apa adanya (kadang air rebusan yg masih berwarna tinta, ikut saya masukkan, karna memang masakan jadi lebih gurih. tetapi merusak “pemandangan” masakan yang akan menjadi legam), kali ini saya bersihkan semuanya. Termasuk kulit ari/tipis cumi yang berwarna hitam menerawang itu. Ingin masakan kali ini, rasanya tidak terganggu dari gurih tinta cumi. Cara memasaknya mudah, dan cepat.

Bahan-bahan
Cumi segar (bersihkan, kupas kulitnya, potong-potong sesuai selera)
2 sdm margarine
Bawang putih 2 siung
Bawang merah 3 siung
Serei 1 buah (geprek)
Lengkuas 3 cm (geprek)
Air putih 100ml
Cabe hijau besar (iris serong)
Cabe rawit merah (iris serong)
Daun jeruk 2 lembar
Air jeruk nipis (peras dari 1/2 butir jeruk nipis)
4 buah tomat kecil, belah 2 (atau 1 buah tomat besar, potong dadu)

Cara membuat
Tumis bawang putih sampai harum, masukkan bawang merah
Masukkan cabe hijau, cabe rawit, serei dan lengkuas, sampai aroma harum keluar
Masukkan cumi, tomat dan air jeruk nipis. Aduk rata, tambahkan air, gula dan garam sesuai selera
Tunggu sampai bumbu teraduk rata, dan cumi empuk
Angkat dari wajan, sajikan

Nah! Beginilah hasilnya. Waktu memasak jadi lebih singkat, cumipun kriyes-kriyes, empug dimakan 😉

Avocado Soup

Setelah terbangun dini hari tadi, rencananya ingin sekalian menyiapkan sarapan untuk Adam. Masih berhubungan dengan proses tumbuh-gigi-nya, Adam jadi lebih picky soal makanan sekarang. Jadilah berkreasi makanan ini itu, supaya nafsu makan Adam timbul lagi.

Browsing sana-sini, kok ya bahan-bahan yang dibutuhkan tidak semuanya ada di dalam kulkas. Akhirnya memutuskan untuk browsing resep-resep masakan yang bahan bakunya memang sudah tersedia saja. Pikir-pikir kok ya bosan dengan bahan sayuran yang itu saja, sepertinya lucu kalo mencoba alpukat sebagai bahan baku soup. Coba-coba browsing, YAY! ternyata ada! Walaupun ternyata cara membuatnya mudah, tapi berhubung butuh menggunakan blender jadilah terpaksa ditunda besok pagi menunggu Adam bangun dulu. Pas kebetulan juga ngantuk sudah datang lagi, jadi mau dilanjut tidur dulu, hihi.

Jadi resepnya ditulis disini dulu saja ya; penampakan dan review rasa menyusul.


Avocado Soup

Bahan-bahan:
1 buah alpukat matang
1/2 bawang bombay atau sesuai selera, cincang
1 siung bawang putih atau sesuai selera, geprek
2 SDM air jeruk nipis
350 ml air
1 SDM cuka atau sesuai selera
1 SDM kecap asin atau sesuai selera
Garam, Lada, bubuk kaldu

Petunjuk
1. Belah alpukat, kemudian ambil dagingnya.
2. Blender semua bahan jadi satu, kecuali air.
3. Jika semua sudah tercampur rata dan halus, masukkan air pelan-pelan.
4. Aduk sampai air tercampur rata dengan bahan yang sudah dihaluskan.
5. Sajikan dingin dan tutup rapat dengan folie

Tips: sup ini mudah menjadi hitam, karena itu disarankan dua jam sebelum dihidangkan barulah dibuat sup ini. Buatnya mudah dan cepat kok, kemudian masukkan ke lemari es, tutup rapat dengan folie.
Enak juga kalau dicampur pake cream.

Resep di atas, diambil dari sini.