“The future has several names. For the weak, it is the impossible. For the fainthearted, it is the unknown. For the thoughtful and valiant, it is the ideal.”
– Victor Hugo

Untuk kami pasangan yang usia pernikahannya masih terbilang muda, rasanya masa depan masih menggantung seperti bayang-bayang. Tidak jelas bentuknya, kadang tidak terlihat, kadang lebih besar dari yang diharapkan. Berbagai nasehat dari orangtua dan kerabat yang lebih berpengalaman dalam rumah tanggapun kerap mampir di telinga. Entah itu di suatu perhelatan resmi macam resepsi pernikahan kerabat, acara kumpul keluarga besar di hari raya, atau hanya obrolan-obrolan singkat di sela-sela pertemuan. Antara lain bagaimana menjaga hubungan suami-istri agar bisa menjalani “beratnya” biduk rumah tangga dengan lancar. Cara penyampaiannyapun berbeda-beda, ada yang langsung menghakimi dengan mengambil contoh sikap-perilaku kami sebagai pasangan, ada juga yang menjadikan dirinya sendiri atau orang-orang terdekat sebagai contoh. Topiknya juga bervariasi, mulai dari cara berinteraksi antara suami-istri, bagaimana mengurus ekonomi keluarga, pola makan dan hidup sehari-hari, pendidikan anak kelak, bersikap pada masing-masing orangtua, dan masih banyak hal lainnya. Bisa dibilang sebagai alih pengalaman, atau bisa juga sebentuk curhat. Pada intinya kami berusaha mengambil semua itu sebagai sesuatu yang positif. Bagaimanapun, mereka tetap sekelompok orang-orang yang sudah mengalaminya terlebih dahulu, hitung-hitung kami sudah dapat contekan sebelum nanti menjalani ujian kami sendiri.

Ibu mertua pernah bilang, bahwa tahun pertama pernikahan semua masih terlihat sangat indah, pada tahun ke tiga pernikahan barulah akan terlihat keburukan sifat kami masing-masing, dan kemudian ujian berumahtangga akan makin berat menjelang tahun ke lima pernikahan. Walau tentunya tanpa peringatan sebelumnya dari beliau, banyak sekali yang menjadi fikiran untuk saya dan suami. Karena awal kami memulai berumahtangga, 14 bulan yang lalu, memang berdasarkan tekat dan nekat. Tapi bukan berarti kami melangkah tanpa memikirkan konsekuensi, karena setelah mengkalkulasi segala kemungkinan terbaik dan terburuk, tetap melangkah adalah pilihan terbaik saat itu. Untuk itu sebisa mungkin kami lebih memilih membuat rencana jangka panjang untuk keluarga kami kelak alih-alih mengkhawatirkan apa yang belum tentu akan terjadi. Misalnya, dalam setiap kesempatan kami kadang berbincang ringan tentang bentuk pekerjaan macam apa yang kira-kira nanti akan kami jalani, bentuk rumah atau memilih mobil idaman kami, bagaimana pendidikan anak kami kelak, tempat-tempat yang ingin kami datangi, dan mimpi-mimpi lainnya yang insyaallah akan terwujud. Hal seperti ini sepertinya lebih menyenangkan dan membangkitkan semangat. Memang saat ini, sama sekali belum terbayang bagaimana kami akan mendapatkan itu semua, tapi kami selalu yakin, atau paling tidak saling meyakinkan satu sama lain bahwa sekecil apapun kemungkinan itu adalah tetap sebuah kemungkinan. Selain tetap membuka telinga dan hati dalam menerima masukan dari sekitar. Dan sejauh tetap berniat baik, berusaha dan percaya pada kemampuan diri sendiri, kami pasti bisa mewujudkan apa yang kami inginkan.

Sepertinya hal yang sama kiranya berlaku bagi teman-teman saya yang sedang di dalam kegundahan mereka masing-masing. Yang masih kuliah, khawatir bagaimana ingin secepatnya menyelesaikan pendidikan lalu kemudian mendapatkan pekerjaan yang sesuai keinginan mereka. Yang sudah bekerja, khawatir bagaimana meningkatkan pendapatan atau tingkat profesi yang lebih baik atau lebih tinggi dari apa yang mereka dapat sekarang. Yang belum mempunyai pasangan, khawatir apakah bisa mendapatkan pasangan yang cocok dan memenuhi kriteria mereka. Yang sudah punya pasangan, khawatir apakah mampu mempertahankan kebersamaan mereka. Sayapun menulis ini karena sedang gundah akan pilihan yang saya ambil. Tapi menurut saya, selalu akan ada kekhawatiran pada tiap langkah hidup kita. Sangat wajar, bukankan itu menandakan bahwa kita masih punya mimpi dan harapan, bukan? Semoga semua kekhawatiran itu tidak lantas menjadi penghambat bagi kita untuk berusaha mewujudkan segala keinginan. Dan bahwa tiap pilihan mempunyai konsekuensi masing-masing. Benar atau salah, adalah bagaimana kita bisa mampu menjalani apapun yang terjadi.

Self note :

Mari melangkah. Lebih baik mencoba lalu berhasil, akan lebih menyenangkan .. daripada tidak berani mencoba, dan tidak bisa menyicipi manisnya keberhasilan 🙂