Baru baru ini banyak kejadian yang tidak menyenangkan wara-wiri (lagi) di kehidupan saya. Faktor internal, maupun eksternal. Lumayan menguras energi dan pikiran. Tidak lupa banyak juga hal-hal bodoh yang saya lakukan, sebagai (katakanlah) kompensasi dari ketidak-nyamanan saya dalam menghadapi suatu kondisi tertentu.

Tapi sekali lagi, saya kagum oleh apa yang dilakukan oleh orang-orang sekitar untuk saya. Perhatian, nasehat, penghiburan, atau bahkan hanya sebuah senyuman. Pastinya tidak semua orang disekitar saya melakukan hal yang serupa. Ada juga yang menutup mata, menjauhi atau bahkan mencibir (dengan cara yang halus tentunya). Sempat membuat saya pesimis sesaat. Tapi tidak lantas mengalahkan “kekuatan” dukungan yang saya dapat oleh saudara, sahabat, teman biasa atau orang yang belum dikenal sekalipun.

Merasa tertolong, karena pada akhirnya dengan kekuatan dukungan itu, saya mampu bersikap “sesuai jalur”. Tidak lantas bablas dan menjatuhkan diri ke jurang.

Lalu, ketika beberapa saat lalu membongkar tulisan-tulisan lama saya. Saya menemukan ini :

♥ ♥ ♥ ♥ ♥

D E W A S A ?
(Oktober 17, 2008)

Terinspirasi (lagi) dengan salah satu tulisan si paKDhe sang sahabat jail. Dengan salah satu cuplikan kalimatnya;

… di suatu hari ada seorang temen yang bilang, “kedewasaan seseorang bukan dinilai dari hidupnya yang ndak pernah bermasalah tapi dari caranya menyelesaikan setiap masalah dalam hidupnya”.

Bahwa pernah atau tidaknya seseorang bermasalah dalam hidup, memang nyatanya tidak menjadi jaminan mutlak bagaimana status kedewasaannya kelak. Seseorang yang sangat bermasalah di masa kecil atau sampai remaja, bahkan bisa sangat berhasil di masa dewasanya. Tapi tidak sedikit kasus dimana hal tersebut terjadi sebaliknya. Atau seorang anak yang bahagia di masa kecilnya-pun, punya persentase yang sama antara menjadi berhasil atau juga menjadi seorang gagal di masa dewasanya.

Saya tidak bercita-cita menjadi intan dari batubara. Walau begitu, sayapun tidak bisa menghindari tekanan dan permasalahan yang tidak bisa saya tolak datangnya.

Saya hanya ingin menjadi sebuah arang dalam pinsil. Sebuah gelas dari tanah liat. Seorang yang ingin menopang orang lain dengan kemampuannya yang apa adanya.


Banyak jalan menjadi dewasa.
Dan setiap orang memegang peranan
dalam kedewasaan orang lain.
Termasuk kalian.

.. maka berhati-hatilah dalam bersikap, karena kalian bisa membentuk, bisa juga menghancurkan.

PS.
Terimakasih untuk semuanya ..

♥ ♥ ♥ ♥ ♥ ♥

Sekali lagi, merasa beruntung memiliki orang-orang hebat dalam hidup saya. Mereka yang selalu meluangkan banyak-hal atas dasar kasih sayang tulus. Memiliki hati yang luas, hingga saya bisa sejenak berteduh disana. Rela meminjamkan sebagian hidupnya, sebagai tempat pelarian sejenak dari hal-hal yang belum mampu saya hadapi.

Terimakasih sahabat, untuk semuanya ..
Untuk kedewasaan yang kalian tularkan. Dan untuk ketenangan yang kalian hadiahkan.