Hun,

Muromachi
07/6/2007 11:13 pm

Hun, I have no pretty face, no fantastic ability .. nor other phenomenon gift. But I own Ur heart, and I need nutin more. ๐Ÿ˜‰

.: Wah, kalo orang lagi jatuh cinta *melow mode on* selalu yah :.

Don't Stop The Music

[youtube=http://www.youtube.com/watch?v=_zNkwyEkiUY]

J edugzz.. J edugzz.. J edugzz..

*lempar-lempar kepala ke udara sambil motoran nyelip-nyelip di antara mobil, bajaj dan motor*

10 habits for homework

H ore! Dapet PR lagi ๐Ÿ˜‰ dari salah satu Sahabat lama, Ifa. Tugasnya adalah menuliskan kebiasaan kita, setidaknya sepuluh kebiasaan. Wah .. Oks saya coba ingat-ingat yah

  1. Tidur tanpa bantal. Kebiasaan baru sebenarnya, sejak menderita cidera tulang belakang tahun lalu. Jadi posisi tidur lurus benar-benar saya cari.
  2. Selalu bolak-balik keluar masuk kamar mandi sebelum akhirnya memulai mandi beneran. Selalu ada saja yang ketinggalan ๐Ÿ˜€
  3. Susah diajak ngobrol hal yang serius. Biasanya harus mikir lama dulu sebelum akhirnya kasih komentar. Apalagi dalam forum.
  4. SKSD sama orang yang baru kenal.
  5. Kalau marah, seringnya kabur. Tapi cepat pulihnya.
  6. Mengitung jumlah uang dalam pecahan, malam hari sebelum tidur.
  7. Kalau lagi suka sama satu barang selalu dipakai berturut-turut.
  8. Minum kopi.
  9. Menunda pekerjaan.
  10. Tidur saat ada waktu luang.

N ah.. sekian 10 kebiasaan saya. Sekarang sesuai aturannya, saya akan meng-estafetkan PR ini ke beberapa Sahabat saya yang lain. Mereka adalah Luvie, Abi, Uwie, PejantanTambun, eskopidantipi, Citra, dan ipied

S elamat mengerjakan PR ! ๐Ÿ˜€

Mudik Tahun Ini

S etiap lebaran, biasanya saya dan keluarga mudik ke kampung halaman Bapak di salah satu kota di daerah Jawa Tengah. Tentunya menjadi bagian dari berjuta-juta orang yang rela meluangkan waktu, energi dan materi demi menjaga tradisi yang telah terwarisi selama turun-menurun. Berangkat tiga atau empat hari sebelum Hari Raya Iedul Fitri, kami menghabiskan berpuluh-puluh jam dalam kendaraan, melakukan aktivitas harian dalam keterbatasan. Sahur dadakan dan menunda berbuka, menikmati perjalanan dengan terik matahari dan macet sepanjang berpuluh-puluh kilometer, menahan buang air, mencari mesjid yang nyaman untuk beribadah atau pom-bensin untuk sekedar membersihkan diri alakadarnya sambil beristirahat sejenak.

M engambil rute yang dianggap paling aman dan cepat ternyata tidak menjamin kenyamanan selama berkendara. Tidak jarang kami terjebak dalam situasi yang tidak menyenangkan, misalnya melalui jalan alternatif yang ternyata malah menyulitkan karena kondisi jalan-nya yang biasanya sempit, rusak atau berputar-putar tidak jelas tanpa petunjuk.

B erpuasa dalam perjalanan juga bukan satu pilihan yang menyenangkan, selain waktu terasa berjalan lebih lambat karena tidak banyak hal yang bisa dilakukan dalam kendaraan, kondisi iklim negara yg tropis ini juga menyumbang perasaan keberatan untuk berlama-lama berada di jalan. Belum lagi berpuluh bahkan ratusan restoran dengan tanpa bersalah me-mejeng menu andalannya. Atau penjual makanan pinggiran yang secara langsung menjajakan dagangannya.

K amipun harus rela berdesak-desakan dalam kendaraan, berbagi ruang dengan saudara atau kenalan orangtua yang kebetulan mudik searah dengan perjalanan kami, beserta barang-barang bawaan yang selalu saja terasa berlebih.

S aya selalu saja keberatan tiap tahunnya. Selalu enggan ber-packing kebutuhan mudik dan makin malas sampai hari keberangkatan tiba.

B apak sang kepala koordinator perjalanan mudik, selalu menyemangati kami. Tidak putusnya menertawakan keadaan kami dalam perjalanan mudik, sekedar menyulut letup letup semangat mudik.

โ€œNduk.. bule pasti pasti pada heran kalo liat kita di TV, melihat kita mengantri dan bersusah payah di jalan serentak untuk pulang kampung. Di luar negeri sana ndak ada tradisi mudik lho..โ€

โ€œNduk.. lihat itu yang mudik diatas mobil pickup, kasihan ya. Panas-panas, bertumpuk-tumpuk dengan barang dan penumpang lain. Kita ndak boleh kalah lho Ndukโ€

B iasanya saya tidak banyak berkomentar. Selain senyum kecut karena kelelahan atau sekedar bosan. Sesekali menimpali sekedarnya. Bunda pun tidak mau kalah, dengan selalu memenuhi kebutuhan makanan dan cemilan selama perjalanan dan melengkapi kebutuhan berlebaran lain.

S elain itu, hal yang paling tidak saya nikmati dalam perjalanan adalah saat Bapak dan Bunda berselisih tentang banyak hal, bahkan hal-hal sepele. Seringnya berkepanjangan dan membuat suasana menjadi tegang. Terasa seperti membawa granat dalam saku celana.

D ibalik itu semua, kebersamaan selalu menjadi bagian dalam perjalanan. Kami makan bersama, beribadah dan beristirahat bersama, bahkan buang air kecil bersama. Hal yang amat sangat jarang saya alami dalam keseharian. Biasanya kami terbenam dalam kesibukan masing-masing, setia pada jarak dan bangunan yang kami bangun diantara hati kami. Menghormati ketidak-harmonisan Bapak dan Bunda, menjadikannya kuil suci yang tidak berani kami sentuh.

T api semua hal itu tidak lagi terjadi tiga tahun belakangan ini. Kuil suci itu menjadi lebih megah. Menjadikan hal disekelilingnya terlihat lebih kecil. Kami merayakan Hari Raya terpisah. Saya dan adik masing-masing bergantian menemani Bapak yang bersikukuh tetap mudik atau Bunda yang ingin tetap di Jakarta.

S embilan hari menuju Hari Raya, saya dan adik kembali terbelenggu dalam pilihan yang kami tidak ingin. Terpisah. Kali ini kami tidak bisa memutuskan akan ikut siapa. Bapak berencana tetap akan mudik, sedangkan Bunda menghadiri pernikahan sepupu saya di Bengkulu. Hari Raya tahun ini mungkin saya dan adik akan tetap di Jakarta. Merayakan hari yang penuh berkah tersebut hanya berdua. Mengingat seluruh keluarga besar kami aka meninggalkan Jakarta.

T iba-tiba saya merindukan terjebak dalam macet berpuluh-puluh kilometer, ingin merasakan lagi terik matahari yang membakar kulit dan menguji iman. Saya kehilangan sesuatu yang tanpa saya sadari sangat berharga. Saya ingin lagi membaur dengan mereka yang dalam penatnya ditemani orang-orang terkasih. Menjalani kesulitan bersama-sama. Ya.. bersama-sama.

B ukan saya tidak akan bersyukur dengan apa adanya hidup saya. Sekedar berbagi. Hanya sebuah cerita sederhana yang mudah-mudahan dapat berguna bagi seluruh Sahabat.

T ernyata hal-hal yang tidak menyenangkan, belum tentu tidak berguna untuk kita.

M ensyukuri kesulitan nyata nya tidak harus sulit kan?

Blank-y

Berhubung lagi blank-y berat, dan ndak ada bahan di posting. Jadilah saya iseng-iseng posting joke-joke jadoel. Boleh nemu di komputer keramat yang dah lama ndak ditoel-toel. Enjoy ๐Ÿ˜‰

*klik Jokes page*