September, 2010

Belakangan ini saya merasa hidup berjalan lebih cepat dari sebelumnya. Mungkin setelah beberapa “ritual” hidup saya terlewati, saya merasa lebih enteng, berkurang banyak dari beban saya sebelumnya. Ritual yang saya maksud itu adalah (akhirnya) dapat menyelesaikan pendidikan dan menikah. Dua hal ini sedikit banyak telah mengubah cara pandang saya terhadap diri sendiri. Dulu yang biasanya saya menjadikan orang lain sebagai patokan dalam bertindak, sehingga beban nya terasa dua kali lipat, yaitu ingin membuat keputusan yang benar sekaligus punya prestasi yang sama seperti orang lain. Kini saya lebih banyak mempertimbangkan seorang diri, sambil sesekali mendiskusikannya dengan suami.

Semakin cepat waktu terasa bergulir, semakin cepat pula saya ingin mewujudkan berbagai macam impian dan rencana. Kalau ingat ini rasanya jadi senyum senyum sendiri. Rencana yang isinya hanya beberapa poin itu saja, butuh hampir 2 tahun untuk mencapainya, dan itupun tidak 100% dari yang diharapkan. Walaupun butuh waktu yang (menurut saya) termasuk lama, namun saya tetap merasa sangat bersyukur.

Sepertinya memang begitulah menjalani hidup, mendapatkan beberapa hal, dan kehilangan beberapa hal lainnya. Tidak beda hal-nya dengan orang-orang yang kita pikir mereka bisa mendapatkan apapun dengan mudah dan pasti, bagaimanapun, di sisi yang kita tidak pernah tahu, sebenarnya merekapun tidak memiliki apa yang mungkin ada di kehidupan sehari-hari kita.

Besok saya akan kehilangan, satu tahun dari kesempatan saya hidup di dunia, lagi. Tapi saya telah menerima banyak hal menyenangkan sebagai pengganti tahun yang hilang itu, dan masih akan bertambah di tahun tahun berikutnya, insyaallah.

Teruntuk Papa dan Mama terkasih..
Yang dengan, atau tanpamu, saya bukanlah apa apa.
Yang hanya pada lelehan keringatmu, saya bergantung nyawa.
Yang pada tiap tarikan napasmu, saya bisa tertawa dan menikmati dunia.

Teruntuk adik kecil tersayang..
Walau dunia kita terpisah dibalik segala kepentingan. Duniamu tetap menjadi bagian yang terpenting.

Teruntuk suami terhebat..
Yang telah membuat hal-hal kecil menjadi sesuatu yang selalu membekas di hati dan pikiran.
Yang telah banyak memberi ruang untuk kita dapat tetap bersama, menyelesaikan segala kesulitan dengan cara yang menyenangkan.
Yang selalu mengembalikan senyum, dibalik segala ketidakpastian.

Teruntuk kalian, semua sahabat yang selalu menguatkan dan menceriakan hati.

I love you all .. Always

Jalan Rejeki

Akhirnya bisa mantengin video amatir Keong Racun ala SinJo yang katanya fenomenal itu, sampe selesai. Sebelumnya cuma lihat sekilas saja dari tayangan yang wira wiri di acara-acara televisi. Kenapa menonton sampe selesai? Ya sepertinya saya ikut-ikutan penasaran dengan isi lengkap video itu. Dan tidak, saya tidak ingin membahas penuh soal video itu disini.

Pagi ini seperti biasa, saya dan suami selalu ngobrol sambil melakukan aktivitas-pagi kami. Salah satunya, ngobrol soal SinJo ini. Membahas soal pemberitaan media yang menurut saya sepertinya terlalu nyeleneh, mengada-ada dan tulalit. Singkatnya membesar-besarkan sesuatu yang sebenarnya biasa saja. Lalu suami dengan entengnya menyahut di sela-sela mandinya,

“Menurutku, sebenernya mereka ndak salah kok, mereka kan juga bilang kalo mereka membuat video itu hanya untuk iseng. Andai mereka mendapatkan tawaran pekerjaan ini itu dari video itu, ya berarti memang lewat situ jalan rejeki mereka”

Eh iya ya, ternyata memang jalan rejeki itu tidak melulu melalui proses yang “baku”. Saya sendiri berkali-kali mengalami hal itu. Walau kita selalu diajarkan untuk selalu berusaha keras untuk mendapatkan sesuatu, nyatanya saya pernah juga, begitu saja mendapatkan hal-hal yang saya inginkan, seperti jatuh dari langit. Namun begitu juga sebaliknya, kehilangan sesuatu atau tidak bisa mendapatkan sesuatu yang diinginkanpun, tidak selalu dikarenakan kurangnya usaha.

Tiba-tiba berharap, saya adalah cucu yang hilang dari seorang pengusaha kaya-raya **ngimpi**

Don’t you think .. ?


“Don’t you think it’s better to be extremely happy for a short while, even if you lose it, than to be just okay for your whole life?”

— Audrey Niffenegger (The Time Traveler’s Wife)

Photo © Joe Jennings - Skydive.tv

Photo © Joe Jennings - Skydive.tv

It’s Too Late

Holding_Hands

I never wanted to have anything in my life that I couldn’t stand losing.

But it’s too late for that.

Henry – Time Traveler’s Wife

Pantai Drini

Enaknya jadi kakakIkan AnehAwDanu sang bapak kosMemantaiUndercover BoyPayung BiruIkan ikanGirangnyaBanci Payung

Lomba Rendem

.. dan kamipun pulang dengan hati senang ;) (Wonosari Beach – November 2009)

Tanpa Judul

Kenapa kalian begitu mudahnya terancam hal-hal yang bahkan belum terjadi.

Membungkus diri dengan kotak andai-andai dan membiarkan perasaan menjadi penentu langkah kaki.

Sekedar mengingatkan .. Bahwa bumi akan tetap berputar, waktu terus berjalan dan orang-orang yang berdiri diatasnya akan tetap bergantian, berlomba mengisi kesempatan yang terserak di-tiap sudut kehidupan, tepat disaat yang sama kalian memutuskan untuk diam dan menarik diri demi rasa nyaman .. memuaskan kekhawatiran tanpa sadar bahwa sebenarnya telah tertinggal.

.. saya berbagi hanya karena peduli.

(6/5/2010.22:08)

Dewasa ? [2]

Baru baru ini banyak kejadian yang tidak menyenangkan wara-wiri (lagi) di kehidupan saya. Faktor internal, maupun eksternal. Lumayan menguras energi dan pikiran. Tidak lupa banyak juga hal-hal bodoh yang saya lakukan, sebagai (katakanlah) kompensasi dari ketidak-nyamanan saya dalam menghadapi suatu kondisi tertentu.

Tapi sekali lagi, saya kagum oleh apa yang dilakukan oleh orang-orang sekitar untuk saya. Perhatian, nasehat, penghiburan, atau bahkan hanya sebuah senyuman. Pastinya tidak semua orang disekitar saya melakukan hal yang serupa. Ada juga yang menutup mata, menjauhi atau bahkan mencibir (dengan cara yang halus tentunya). Sempat membuat saya pesimis sesaat. Tapi tidak lantas mengalahkan “kekuatan” dukungan yang saya dapat oleh saudara, sahabat, teman biasa atau orang yang belum dikenal sekalipun.

Merasa tertolong, karena pada akhirnya dengan kekuatan dukungan itu, saya mampu bersikap “sesuai jalur”. Tidak lantas bablas dan menjatuhkan diri ke jurang.

Lalu, ketika beberapa saat lalu membongkar tulisan-tulisan lama saya. Saya menemukan ini :

♥ ♥ ♥ ♥ ♥

D E W A S A ?
(Oktober 17, 2008)

Terinspirasi (lagi) dengan salah satu tulisan si paKDhe sang sahabat jail. Dengan salah satu cuplikan kalimatnya;

… di suatu hari ada seorang temen yang bilang, “kedewasaan seseorang bukan dinilai dari hidupnya yang ndak pernah bermasalah tapi dari caranya menyelesaikan setiap masalah dalam hidupnya”.

Bahwa pernah atau tidaknya seseorang bermasalah dalam hidup, memang nyatanya tidak menjadi jaminan mutlak bagaimana status kedewasaannya kelak. Seseorang yang sangat bermasalah di masa kecil atau sampai remaja, bahkan bisa sangat berhasil di masa dewasanya. Tapi tidak sedikit kasus dimana hal tersebut terjadi sebaliknya. Atau seorang anak yang bahagia di masa kecilnya-pun, punya persentase yang sama antara menjadi berhasil atau juga menjadi seorang gagal di masa dewasanya.

Saya tidak bercita-cita menjadi intan dari batubara. Walau begitu, sayapun tidak bisa menghindari tekanan dan permasalahan yang tidak bisa saya tolak datangnya.

Saya hanya ingin menjadi sebuah arang dalam pinsil. Sebuah gelas dari tanah liat. Seorang yang ingin menopang orang lain dengan kemampuannya yang apa adanya.


Banyak jalan menjadi dewasa.
Dan setiap orang memegang peranan
dalam kedewasaan orang lain.
Termasuk kalian.

.. maka berhati-hatilah dalam bersikap, karena kalian bisa membentuk, bisa juga menghancurkan.

PS.
Terimakasih untuk semuanya ..

♥ ♥ ♥ ♥ ♥ ♥

Sekali lagi, merasa beruntung memiliki orang-orang hebat dalam hidup saya. Mereka yang selalu meluangkan banyak-hal atas dasar kasih sayang tulus. Memiliki hati yang luas, hingga saya bisa sejenak berteduh disana. Rela meminjamkan sebagian hidupnya, sebagai tempat pelarian sejenak dari hal-hal yang belum mampu saya hadapi.

Terimakasih sahabat, untuk semuanya ..
Untuk kedewasaan yang kalian tularkan. Dan untuk ketenangan yang kalian hadiahkan.

Wanita Senja

senja

Wanita itu bernama Senja
Di pelupuknya garis hitam menggenang diantara warna jingga yang menyala
Ketika satu satu lampu kota melumat lelah yang tercecer di sudut sudut gedung menjulang

Wanita itu terluka
Di pipinya segurat warna warni cahaya dari aneka benda bertabrakan dan saling melebur
Ketika gelap mulai melahap bongkahan bongkahan pongah yang berdiri tegap sejak diawal hari

P
ada senyum lelaki itu dia gantungkan sisa detik sebelum hari berganti
Sebelum hidup menghisap habis seluruh kekuatannya untuk tetap terjaga

Pada dada lelaki itu dia rebahkan mimpi mimpi
Tentang hamparan sabana luas .. gunung menjulang .. gumpalan-gumpalan kapas mengambang dan alunan gemericik sungai jernih

————–

Senja ..
Pada cinta mana akan kau percayakan seluruh hidupmu ?
Pada cinta gila yang menguras kesadaran di seluruh jaras jaras syaraf tubuh mu ..
Atau pada cinta setengah terpaksa yang mampu menutup sepersekian kebutuhan duniawi mu ?

Aku tidak punya keduanya

Aku hanya punya cinta sederhana
Sesederhana pertemuan pertemuan singkat kita

Senja ..
Pada lelaki mana akan kau gantungkan harapan harapanmu ?
Pada lelaki tampan yang mati-matian menginginkan segala kemolekan mu ..
Atau pada lelaki terpelajar yang bisa mengangkat harga diri mu ?

Aku bukan keduanya

Aku hanya lelaki apa adanya
Berhartakan udara, langit dan tanah terpijak

Senja ..
Ketika mencintaimu tak lagi sederhana
Dan ketika udara, langit juga tanah tempatku berpijak memintaku memilih
Aku harus pergi

Meninggalkanmu bersama aroma tubuh yang melekat bertahun tahun dilubang hidungku
Bersama rasa cemburu yang sesak mengisi lorong hatiku

————–

Wanita itu tersenyum
Menikmati kecewanya dalam hening
.. membakarnya diam-diam lalu meninggalkan sisanya dipinggir cangkir kopi malam itu

(09/01/2010.16:25)

Bertengkarlah Dengan Baik dan Benar

Bertengkar dengan pasangan itu adalah default. Wajar. Tetapi menjadi amat sangat tidak keren, bila anda atau pasangan melakukannya di area publik.

Contohnya seperti yang saya alami sekarang. Sepasang kekasih (atau entah suami istri), yang duduk selang satu user disamping saya, tiba tiba mengeluarkan suara-suara berinotasi tinggi dan gebrak gebrakan di kubik setengah terbuka. Tentunya bukan hanya saya, tetapi seluruh pengguna warnet yang saat itu sedang khusuk-khusuknya “beribadah”, kontan mengalihkan pandangan ke arah mereka, dengan tidak lupa memasang wajah heran, dan terganggu. Sejenak mereka diam. Kamipun kembali ke aktivitas sebelumnya. Namun dalam hitungan detik, intonasi tinggi itu kembali terdengar, kali ini diikuti dengan goyangan di kubik.

Saya tidak tau apa yang mereka ributkan. Dan tidak mau tau. Yang saya sayangkan adalah, bagaimana mereka mengekspresikan rasa amarah mereka dalam suatu tindakan yang bisa saya bilang menganggu “urusan” orang lain, mengingat mereka melakukannya di area publik. Bukan sekali ini saja saya mendapati hal seperti diatas. Dulu sekali, bahkan saya punya teman, pasangan kekasih, yang bila bertengkar bukan hanya menggunakan kekuatan suara, tapi juga otot. Lemparan botol, gelas atau saling memukul adalah hal yang lumrah kami dan kawan lain dapati saat mereka sedang dipuncak amarah. Bahkan saya pernah mendapati salah satu dari mereka menabrakkan diri beserta motor yang dia bawa saat itu ke suatu tiang listrik. Bodoh.

Iya, bodoh. Cuma kata itu yang terlintas di pikiran saya. Saat mendapati adegan adegan pertengkaran antar kekasih di area publik, di jalan raya, kantor, tempat wisata, mall, komunitas online, dimanapun.

Bodoh karena apapun yang kalian umbar disana adalah tidak lain dan tidak bukan adalah ego untuk saling memenangkan apa yang kalian masing-masing anggap benar. Terlihat oleh orang lain, adalah kesempatan untuk mencari simpati. Bukan untuk mencari apa yang benar-benar kalian butuhkan untuk menyelesaikan akar dari pertengkaran. Buang-buang waktu.

Bodoh karena secara tidak langsung, kalian memberi label buruk pada pasangan masing-masing untuk kemudian nantinya diberi penilaian oleh publik. Dengan mudahnya.

B
odoh karena telah membuang energi dan merugikan diri sendiri, untuk sesuatu yang mungkin tidak kalian butuhkan di masa datang. Atau berakhir dengan penyesalan yang berkepanjangan.

.. Berilah kesempatan bagi anda dan pasangan untuk saling memikirkan apa yang sebenarnya terjadi. Untuk menyadari apa yang telah diperbuat sehingga membuat pasangan merasa tidak nyaman.

Menjauhlah dari area publik. Sehingga anda dan pasangan mempunyai ruang pribadi yang cukup untuk menggunakan akal sehat. Bukan memutuskan sesuatu dengan terburu-buru, atau mengandalkan ego dan gengsi.

Dan apapun kesalahan pasangan anda, mereka punya hak untuk didengarkan. Jangan khawatir, setelah itu, anda akan memiliki kekuasaan penuh untuk memutuskan.

Salam damai ..

Rindu

Pada kelam kutambat angan dan gairah tentang peluh dan daging bernyawa. Membiarkan nya terus berguncang dihempas riak bola-bola air yang saling bergesekan kemudian pecah. Berulang.

Tubuh sebentuk asap. Dingin, mengambang dan samar. Menyeka tiap pori-pori kulit. Menyusup tiap lubang disudut sudut raga. Perih.

Kutukar airmata demi sekelebat kehangatan jemari kekar. Pula kurajang harga diri ini untuk sebuah sudut sempit diujung lapang pandang terjauhmu.

Kamu mematung. Bakaran dupa memeluk erat, dengan kakimu terikat kuat pada akar-mengakar yang berurat. Bahkan sebelum kehidupanmu sebelumnya usai.

Pun, aku tertidur malam ini, dengan isi kepala tergantung dalam sangkar berjeruji rapat. Berdesakan dengan amarah, nyeri dah rindu.

bali sunset