

k•pisusu
.. a diary
Don’t you think .. ?
Author: kopisusu
“Don’t you think it’s better to be extremely happy for a short while, even if you lose it, than to be just okay for your whole life?”
— Audrey Niffenegger (The Time Traveler’s Wife)

Photo © Joe Jennings - Skydive.tv
read comments (0)It’s Too Late
Author: kopisusu

But it’s too late for that.
Henry – Time Traveler’s Wife
Pantai Drini
Author: kopisusu
Tanpa Judul
Author: kopisusu
Kenapa kalian begitu mudahnya terancam hal-hal yang bahkan belum terjadi.
Membungkus diri dengan kotak andai-andai dan membiarkan perasaan menjadi penentu langkah kaki.
Sekedar mengingatkan .. Bahwa bumi akan tetap berputar, waktu terus berjalan dan orang-orang yang berdiri diatasnya akan tetap bergantian, berlomba mengisi kesempatan yang terserak di-tiap sudut kehidupan, tepat disaat yang sama kalian memutuskan untuk diam dan menarik diri demi rasa nyaman .. memuaskan kekhawatiran tanpa sadar bahwa sebenarnya telah tertinggal.
.. saya berbagi hanya karena peduli.
(6/5/2010.22:08)
Dewasa ? [2]
Author: kopisusu
Baru baru ini banyak kejadian yang tidak menyenangkan wara-wiri (lagi) di kehidupan saya. Faktor internal, maupun eksternal. Lumayan menguras energi dan pikiran. Tidak lupa banyak juga hal-hal bodoh yang saya lakukan, sebagai (katakanlah) kompensasi dari ketidak-nyamanan saya dalam menghadapi suatu kondisi tertentu.
Tapi sekali lagi, saya kagum oleh apa yang dilakukan oleh orang-orang sekitar untuk saya. Perhatian, nasehat, penghiburan, atau bahkan hanya sebuah senyuman. Pastinya tidak semua orang disekitar saya melakukan hal yang serupa. Ada juga yang menutup mata, menjauhi atau bahkan mencibir (dengan cara yang halus tentunya). Sempat membuat saya pesimis sesaat. Tapi tidak lantas mengalahkan “kekuatan” dukungan yang saya dapat oleh saudara, sahabat, teman biasa atau orang yang belum dikenal sekalipun.
Merasa tertolong, karena pada akhirnya dengan kekuatan dukungan itu, saya mampu bersikap “sesuai jalur”. Tidak lantas bablas dan menjatuhkan diri ke jurang.
Lalu, ketika beberapa saat lalu membongkar tulisan-tulisan lama saya. Saya menemukan ini :
D E W A S A ?
(Oktober 17, 2008)
Terinspirasi (lagi) dengan salah satu tulisan si paKDhe sang sahabat jail. Dengan salah satu cuplikan kalimatnya;
… di suatu hari ada seorang temen yang bilang, “kedewasaan seseorang bukan dinilai dari hidupnya yang ndak pernah bermasalah tapi dari caranya menyelesaikan setiap masalah dalam hidupnya”.
Bahwa pernah atau tidaknya seseorang bermasalah dalam hidup, memang nyatanya tidak menjadi jaminan mutlak bagaimana status kedewasaannya kelak. Seseorang yang sangat bermasalah di masa kecil atau sampai remaja, bahkan bisa sangat berhasil di masa dewasanya. Tapi tidak sedikit kasus dimana hal tersebut terjadi sebaliknya. Atau seorang anak yang bahagia di masa kecilnya-pun, punya persentase yang sama antara menjadi berhasil atau juga menjadi seorang gagal di masa dewasanya.
Saya tidak bercita-cita menjadi intan dari batubara. Walau begitu, sayapun tidak bisa menghindari tekanan dan permasalahan yang tidak bisa saya tolak datangnya.
Saya hanya ingin menjadi sebuah arang dalam pinsil. Sebuah gelas dari tanah liat. Seorang yang ingin menopang orang lain dengan kemampuannya yang apa adanya.
Banyak jalan menjadi dewasa.
Dan setiap orang memegang peranan
dalam kedewasaan orang lain.
Termasuk kalian.
.. maka berhati-hatilah dalam bersikap, karena kalian bisa membentuk, bisa juga menghancurkan.
PS.
Terimakasih untuk semuanya ..
Sekali lagi, merasa beruntung memiliki orang-orang hebat dalam hidup saya. Mereka yang selalu meluangkan banyak-hal atas dasar kasih sayang tulus. Memiliki hati yang luas, hingga saya bisa sejenak berteduh disana. Rela meminjamkan sebagian hidupnya, sebagai tempat pelarian sejenak dari hal-hal yang belum mampu saya hadapi.
Terimakasih sahabat, untuk semuanya ..
Untuk kedewasaan yang kalian tularkan. Dan untuk ketenangan yang kalian hadiahkan.
Wanita Senja
Author: kopisusu

Wanita itu bernama Senja
Di pelupuknya garis hitam menggenang diantara warna jingga yang menyala
Ketika satu satu lampu kota melumat lelah yang tercecer di sudut sudut gedung menjulang
Wanita itu terluka
Di pipinya segurat warna warni cahaya dari aneka benda bertabrakan dan saling melebur
Ketika gelap mulai melahap bongkahan bongkahan pongah yang berdiri tegap sejak diawal hari
Pada senyum lelaki itu dia gantungkan sisa detik sebelum hari berganti
Sebelum hidup menghisap habis seluruh kekuatannya untuk tetap terjaga
Pada dada lelaki itu dia rebahkan mimpi mimpi
Tentang hamparan sabana luas .. gunung menjulang .. gumpalan-gumpalan kapas mengambang dan alunan gemericik sungai jernih
————–
Senja ..
Pada cinta mana akan kau percayakan seluruh hidupmu ?
Pada cinta gila yang menguras kesadaran di seluruh jaras jaras syaraf tubuh mu ..
Atau pada cinta setengah terpaksa yang mampu menutup sepersekian kebutuhan duniawi mu ?
Aku tidak punya keduanya
Aku hanya punya cinta sederhana
Sesederhana pertemuan pertemuan singkat kita
Senja ..
Pada lelaki mana akan kau gantungkan harapan harapanmu ?
Pada lelaki tampan yang mati-matian menginginkan segala kemolekan mu ..
Atau pada lelaki terpelajar yang bisa mengangkat harga diri mu ?
Aku bukan keduanya
Aku hanya lelaki apa adanya
Berhartakan udara, langit dan tanah terpijak
Senja ..
Ketika mencintaimu tak lagi sederhana
Dan ketika udara, langit juga tanah tempatku berpijak memintaku memilih
Aku harus pergi
Meninggalkanmu bersama aroma tubuh yang melekat bertahun tahun dilubang hidungku
Bersama rasa cemburu yang sesak mengisi lorong hatiku
————–
Wanita itu tersenyum
Menikmati kecewanya dalam hening
.. membakarnya diam-diam lalu meninggalkan sisanya dipinggir cangkir kopi malam itu
(09/01/2010.16:25)
Bertengkarlah Dengan Baik dan Benar
Author: kopisusu
Bertengkar dengan pasangan itu adalah default. Wajar. Tetapi menjadi amat sangat tidak keren, bila anda atau pasangan melakukannya di area publik.
Contohnya seperti yang saya alami sekarang. Sepasang kekasih (atau entah suami istri), yang duduk selang satu user disamping saya, tiba tiba mengeluarkan suara-suara berinotasi tinggi dan gebrak gebrakan di kubik setengah terbuka. Tentunya bukan hanya saya, tetapi seluruh pengguna warnet yang saat itu sedang khusuk-khusuknya “beribadah”, kontan mengalihkan pandangan ke arah mereka, dengan tidak lupa memasang wajah heran, dan terganggu. Sejenak mereka diam. Kamipun kembali ke aktivitas sebelumnya. Namun dalam hitungan detik, intonasi tinggi itu kembali terdengar, kali ini diikuti dengan goyangan di kubik.
Saya tidak tau apa yang mereka ributkan. Dan tidak mau tau. Yang saya sayangkan adalah, bagaimana mereka mengekspresikan rasa amarah mereka dalam suatu tindakan yang bisa saya bilang menganggu “urusan” orang lain, mengingat mereka melakukannya di area publik. Bukan sekali ini saja saya mendapati hal seperti diatas. Dulu sekali, bahkan saya punya teman, pasangan kekasih, yang bila bertengkar bukan hanya menggunakan kekuatan suara, tapi juga otot. Lemparan botol, gelas atau saling memukul adalah hal yang lumrah kami dan kawan lain dapati saat mereka sedang dipuncak amarah. Bahkan saya pernah mendapati salah satu dari mereka menabrakkan diri beserta motor yang dia bawa saat itu ke suatu tiang listrik. Bodoh.
Iya, bodoh. Cuma kata itu yang terlintas di pikiran saya. Saat mendapati adegan adegan pertengkaran antar kekasih di area publik, di jalan raya, kantor, tempat wisata, mall, komunitas online, dimanapun.
Bodoh karena apapun yang kalian umbar disana adalah tidak lain dan tidak bukan adalah ego untuk saling memenangkan apa yang kalian masing-masing anggap benar. Terlihat oleh orang lain, adalah kesempatan untuk mencari simpati. Bukan untuk mencari apa yang benar-benar kalian butuhkan untuk menyelesaikan akar dari pertengkaran. Buang-buang waktu.
Bodoh karena secara tidak langsung, kalian memberi label buruk pada pasangan masing-masing untuk kemudian nantinya diberi penilaian oleh publik. Dengan mudahnya.
Bodoh karena telah membuang energi dan merugikan diri sendiri, untuk sesuatu yang mungkin tidak kalian butuhkan di masa datang. Atau berakhir dengan penyesalan yang berkepanjangan... Berilah kesempatan bagi anda dan pasangan untuk saling memikirkan apa yang sebenarnya terjadi. Untuk menyadari apa yang telah diperbuat sehingga membuat pasangan merasa tidak nyaman.
Menjauhlah dari area publik. Sehingga anda dan pasangan mempunyai ruang pribadi yang cukup untuk menggunakan akal sehat. Bukan memutuskan sesuatu dengan terburu-buru, atau mengandalkan ego dan gengsi.
Dan apapun kesalahan pasangan anda, mereka punya hak untuk didengarkan. Jangan khawatir, setelah itu, anda akan memiliki kekuasaan penuh untuk memutuskan.
Salam damai ..
Rindu
Author: kopisusu
Pada kelam kutambat angan dan gairah tentang peluh dan daging bernyawa. Membiarkan nya terus berguncang dihempas riak bola-bola air yang saling bergesekan kemudian pecah. Berulang.
Tubuh sebentuk asap. Dingin, mengambang dan samar. Menyeka tiap pori-pori kulit. Menyusup tiap lubang disudut sudut raga. Perih.
Kutukar airmata demi sekelebat kehangatan jemari kekar. Pula kurajang harga diri ini untuk sebuah sudut sempit diujung lapang pandang terjauhmu.
Kamu mematung. Bakaran dupa memeluk erat, dengan kakimu terikat kuat pada akar-mengakar yang berurat. Bahkan sebelum kehidupanmu sebelumnya usai.
…
Pun, aku tertidur malam ini, dengan isi kepala tergantung dalam sangkar berjeruji rapat. Berdesakan dengan amarah, nyeri dah rindu.
![]()
Technicolour – Paloma Faith
Author: kopisusu
Once upon a time, my friends it feels like yesterday
I was living lonesome in a world of disarray
Everything was a black and white, there wasn’t even gray
And every morning waking up on groundhog day
Chorus:
It was all in monochrome without the lies
Just like a silver screen you walk into my life
You taught the stars to light up what we find
I come alive saturated in your charms
We kiss the sky and dancing towards rainbows
Now it’s all in technicolor with you
I lived in the blackest house with seven pure white cats
The bleak eyed look of every day hidden deep inside my heart
The notes on the piano now remind me of my past
And now you’re here right by my side I hope that we will last
Chorus
Yellow, orange, pink, red, and blue
Let’s paint the town, darling us two
You bring your pallet and I will sing the sub bar
We are just two birds of a feather
Hening
Author: kopisusu

Suatu siang di sebuah ruangan lapang yang senyap dan dingin. Suara denyut alat monitoring membelah hening, kelap kelip indikator berdetak bersama detik jam dinding. Tubuh tubuh setengah nyawa tergeletak tak berdaya.
Malaikat penjemput ruh menanti dengan sabar, sampai hitungan mundur umur berakhir.
Gadis manis, 15 tahun, usai kecelakaan motor bersama teman, saat akan merayakan hari ulang tahun nya, setelah sempat sadar untuk beberapa jam, kemudian tidak lagi bangun sampai seluruh kemampuan pertahanan hidupnya perlahan berhenti bekerja. Ibu yang berulang kali tidak sadar diri ketika dijelaskan, bahwa anak yang pernah dan selalu dia pertaruhkan hidup dan nyawa untuknya itu tidak lagi hidup melainkan atas bantuan alat bantu pernapasan dan obat pemacu jantung. Ayah yang meleleh seluruh keperkasaannya, ketika terpaksa harus melepaskan sendiri semua alat bantu hidup yang melekat ditubuh mungil yang dulu pernah dia sambut lahirnya dengan sukacita dan asma kebesaran Allah, kini asma kebesaran Allah beriringan dengan duka dan kecewa mendalam, saat henti denyut dan napas sang anak terkasih berada di ujung jari-jarinya.
Duda 27 tahun, dengan kondisi yang tidak jauh beda, harus meninggalkan seorang anak perempuan yang belum genap 3 tahun tanpa Ibu. Seorang kakak tidak habis airmata, menggenggam erat tangan yang selama ini dia bimbing, menciumi kaki yang selama diharapkan segala kebaikan untuknya. Mengusap seluruh tubuh yang lemas tanpa reaksi, meratap sambil berharap sang adik terbangun sebelum semua alat bantu hidup dimatikan, sebelum obat pemacu jantung berhenti bekerja.
Suami terbaik dan Ayah tercinta untuk sebuah keluarga besar yang rukun ..
Ibu terhebat sekaligus Istri terkasih ..
Satu satu pergi kembali kepada penciptanya.
..
Setiap orang selalu bermimpi kebaikan, kerap berusaha meraih kebahagiaan. Lupa bahwa kematian adalah yang nyata.
Entah kapan. Entah dimana. Entah bagaimana.
Orang-orang terkasih di sekeliling yang kita pikir tidak lebih penting dari diri kita sendiri, yang kita pikir akan selalu ada kapan saja kita butuh, nyatanya sewaktu-waktu dapat pergi, pun kita sendiri.
Kepada mereka yang meninggalkan kita, segala permohonan maaf yang belum sempat diutarakan. Rasa sesal, amarah dan atau kecewa yang masih dipendam. Tanda cinta dan sayang yang tidak sempat dilakukan. Rahasia gelap yang tidak tuntas dibersihkan. Hanya akan menjadi sampah sisa, tidak berguna. Bergelayut sepanjang umur, di belakang kepala dan di dada.
Hanya butuh beberapa detik dari puluhan ribu detik yang milikmu setiap harinya, sempatkanlah. Demi meringankan segala kesulitan. Di dunia, dan akhirat.











